Laba Bank BJB (BJBR) Melorot 18,96% Jadi Rp 1,16 Triliun di Kuartal III-2024
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk atau Bank BJB (BJBR) membukukan laba setelah pajak senilai Rp 1,16 triliun pada kuartal III-2024. Angka tersebut mencerminkan penurunan 18,96% secara year on year dari Rp 1,43 triliun pada kuartal III-2023.
Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi mengungkapkan, efisiensi dalam operasional serta optimalisasi fee-based income berhasil menjaga laba sebelum pajak konsolidasi sebesar Rp 1,47 triliun pada periode yang sama.
Sebagai catatan, laba sebelum pajak BJBR pada periode yang sama tahun 2023 tercatat sebesar Rp 1,72 triliun, artinya terjadi penurunan laba sebelum pajak sebesar 14,61% secara yoy.
"Fokus utama Bank BJB adalah mempertahankan pertumbuhan yang sehat melalui pengembangan layanan digital, optimalisasi portofolio kredit, serta pengelolaan risiko yang ketat untuk memastikan operasional bisnis tetap kuat dan stabil," ujar Yuddy dalam keterangan yang diterima, Rabu (30/10/2024).
Baca Juga
BJBR Kantongi Peringkat idA+ untuk Penerbitan Obligasi Subordinasi Rp 3 Triliun
Yuddy menjelaskan, secara konsolidasi, Bank BJB menunjukkan kinerja keuangan yang solid. Total aset meningkat sebesar 17,1% year on year (yoy), mencapai Rp 210 triliun.
Kemudian, dana pihak ketiga juga tumbuh 17,1% yoy, mencapai Rp 153,2 triliun, sementara kredit termasuk pembiayaan meningkat 10,4% yoy menjadi Rp 138 triliun.
Lebih lanjut, Yuddy menyebut, dari sisi kredit bank only, Bank BJB mencatat pertumbuhan sebesar 4,3% yoy menjadi Rp 121,5 triliun, dengan kontribusi utama dari segmen kredit konsumer yang tumbuh 6,8% yoy mencapai Rp 73,1 triliun.
Menurut Yuddy, segmen kredit konsumer masih menjadi penopang utama kinerja Bank BJB, dengan market share mencapai 29% di kalangan P3K di Jawa Barat dan Banten. Pada akhir September, jumlah debitur P3K meningkat signifikan dengan lebih dari 54.000 pegawai yang menjadi nasabah Bank BJB, menunjukkan potensi pasar yang masih besar di segmen ini.
Dari sisi DPK, Bank BJB berhasil meningkatkan rasio current account saving account (CASA) sebesar 2,2% menjadi 44,9%, mencerminkan komitmen perseroan untuk menjaga cost of fund di level 4,7%.
"Hal ini membantu Bank BJB memanfaatkan momentum penurunan suku bunga acuan guna mengurangi biaya dana," ucap Yuddy.
Kemudian, net interest margin (NIM) Bank BJB tercatat sebesar 3,8%, dengan non-performing loan (NPL) pada level 1,53% yang didukung coverage ratio di atas 100%.
Baca Juga
BRI (BBRI) Catat Laba Bank Only Rp 41,67 Triliun di Kuartal III 2024, Tumbuh 6,85%
Rasio permodalan (CAR) Bank BJB juga terjaga di level 19,4%, dengan rencana penerbitan Surat Berharga Perpetual untuk penguatan modal Tier 1.
Di sisi lain, Yuddy mengatakan bahwa bahwa Bank BJB terus mendorong penerapan prinsip-prinsip ESG dalam aktivitas bisnisnya. Hingga September 2024, portofolio keberlanjutan Bank BJB mencapai Rp 18,2 triliun, setara 15% dari total portofolio kredit.
Peningkatan sebesar 15,1% ini disalurkan ke berbagai sektor berwawasan lingkungan, pembiayaan UMKM, dan transportasi ramah lingkungan. Di kuartal IV tahun ini, Bank BJB berencana menerbitkan Obligasi Berkelanjutan senilai Rp 1 triliun guna memperkuat pendanaan keberlanjutan.
"Ke depan, perseroan akan terus berupaya untuk memperkuat posisi untuk menjadi bank pilihan utama masyarakat dengan fokus pada inovasi, digitalisasi, serta peningkatan kualitas layanan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, sebagai modal penting bagi perseroan dalam menghadapi tantangan kedepan, serta memperkuat posisi perseroan sebagai institusi keuangan yang terpercaya dan berorientasi pada masa depan," jelas Yuddy.
Grafik Harga Saham BJBR:

