IHSG Potensi Menguat, Cek Rekomendasi Saham ASII, HRUM, MEDC, dan CTRA
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini diperkirakan berpotensi menguat terbatas, dengan pergerakan di range 7.600-7.700. IHSG pada perdagangan 1 Oktober kemarin tercatat menguat signifikan 1,52%, ke level 7.642.
“Tim Riset InvestasiKu merekomendasi sejumlah saham layak dicermati investor. Ini misalnya ASII (Astra International), dengan rekomendasi buy Rp 5.075-5.150, target price Rp 5.225-5.350, dan stop loss Rp 5.000,” kata analis Cheril Tanuwijaya membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Rabu (2/10/2024).
Baca Juga
Head of Research Mega Capital Sekuritas ini juga merekomendasikan sejumlah saham lain untuk perdagangan hari ini. Pilihannya adalah Harum Energy (HRUM), Medco Energi Internasional (MEDC), dan Ciputra Development (CTRA).
Harga Komoditas Melejit
Penguatan IHSG kemarin, lanjut dia, ditopang oleh kenaikan harga komoditas global. Ini seperti batu bara, migas, nikel, kertas, dan petrokimia.
"Secara sectoral, penopang penguatan IHSG datang dari sektor energi dan bahan baku," ucap dia.
Ia mengatakan, aksi jual investor asing mereda dan pada perdagangan kemarin investor asing net buy sebesar Rp 347,51 miliar. Lima saham yang paling banyak dibeli yaitu ASII, BBCA, TLKM, MDKA, dan BMRI.
"Kemarin ada pula rilis data ekonomi yaitu inflasi September. Inflasi secara tahunan berada di level 1,84%, level terendah sejak November 2021 dan masih dalam kisaran target BI di level 1,5-3,5%. Sebaliknya, secara bulanan deflasi harga masih terjadi, selama 5 bulan berturut-turut," paparnya.
Berdasarkan informasi Badan Pusat Statistik (BPS), lanjut Cheril, deflasi yang terjadi disebabkan oleh penurunan harga pangan akibat kondisi cadangan yang melimpah.
Global Sentiment
Cheril membeberkan pula beberapa sentimen global kemarin waktu setempat. "Bursa Wall Street Amerika Serikat berbalik melemah. Pelemahan dipimpin indeks Nasdaq yang terkoreksi 1,53%," ujarnya.
Rilis data ekonomi AS menunjukan masih lemahnya kondisi manufaktur yang direfleksikan oleh data S&P dan ISM Manufaktur bulan September, yang berada di level 47. Level di bawah 50 menandai zona kontraksi.
Peningkatan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah turut mendukung aksi jual di bursa saham global, seiring Iran mengirimkan serangan misil ke Israel sebagai tindakan balasan atas wafatnya pemimpin Hisbulah Hassan Nasrallah dan salah satu komandan Iran di Lebanon.
Hal ini dikhawatirkan pasar akan membuat konflik geopolitik meluas. Kekhawatiran itu ditunjukan oleh kenaikan indeks VIX dari 15,12 ke 19,26 dan kenaikan harga komoditas minyak serta emas.
"Kami memperkirakan saham terkait komoditas emas di IDX berpotensi lanjut menguat, sehingga dapat dicermati hari ini," tandasnya.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Hampir 3% setelah Iran Tembakkan Rudal ke Israel
(Disclaimer on)

