Menakar Laju IHSG Usai Suku Bunga Dipangkas, Bisa Tembus Level 8.000?
JAKARTA, investortrust.id - PT Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai laju indeks harga saham gabungan (IHSG) usai pemangkasan suku bunga The Fed jutsru bisa menekan peluang IHSG bisa menembus level 8.000 hingga akhir tahun ini.
"Tren pemangkasan suku bunga itu sudah pressed in dengan IHSG saat ini, ditambah kemarin IHSG tembus 7.900, menurut saya itu sudah masuk dalam target kita, secara keseluruhan target kita sampai akhir tahun masih di level 7.700 sampai dengan 7.800," kata Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi kepada investortrust.id saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Sabtu (21/9/2024).
Menurut Audi, investor harus tetap mengantisipasi terhadap tren pemangkasan suku bunga, karena selain bisa mengantarkan sentimen positif di bursa, pemangkasan suku bunga juga bisa memberikan sentimen sebaliknya.
Baca Juga
BRI Danareksa Sekuritas Naikkan Target IHSG Jadi 8.238, Ini Katalisnya
"Kenapa seagresif itu The Fed? Karena dibaliknya agresifnya itu kami justru mengkhawatirkan, bisa jadi The Fed (menyimpan) informasi lain bahwa ekonomi Amerika Serikat tidak sestabil sekarang, atau bahkan akan ada dampak negatif ke depan. Jadi memang kenapa kita masih konservatif atau bahkan (proyeksi) level (IHSG) dari kita tidak lebih dari 8.000, kami mempertimbangkan itu," terang dia.
Tak hanya itu, Audi menerangkan ada faktor lainnya, yakni transisi pemerintahan baru yang saat ini sudah mulai berjalan. Transisi pemerintahan juga menjadi sentimen pendorong pasar yang menantikan program berkelanjutan, dan para pelaku pasar juga tengah menimbang seberapa rasional kebijakan-kebijakan yang disiapkan pemerintahan Prabowo - Gibran.
"Karena kalau kita lihat dari RAPBN 2025, kita masih defisit anggaran. Alokasi anggaran terbanyaknya dikhawatirkan akan mendorong pengurangan (anggaran) untuk infrastruktur," sambung dia.
Di sisi lain ia sepakat dengan anggapan umum bahwa ada dampak positif dari pengurangan suku bunga pada kinerja emiten saham sektor bank. Pasalnya cost of fund (COF) perbankan akan turun, sehingga akan ada peningkatan permintaan kredit di tengah pertumbuhan pinjaman di Indonesia masih cukup tinggi.
Baca Juga
IHSG Sesi I Babak Belur Akibat Kejatuhan Saham Emiten Prajogo Pangestu
Sektor properti juga diperkirakan akan menerima sentimen positif pasar, yang sejak akhir tahun lalu masih diliputi sentimen negatif akibat tingginya tingkat suku bunga. Kendati sudah tersedia kebijakan insentif PPN yang 100% yang ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
Ia juga berharap penurunan suku bunga akan ikut mengerek kinerja sektor manufaktur, yang dalam dua bulan terakhir mengalami penurunan Indeks PMI (Purchasing Managers' Index). Indeks yang satu ini adalah indikator ekonomi yang mengukur kesehatan sektor manufaktur dan jasa di suatu negara. Melansir data BPS, PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 48,9 pada Agustus 2024 dari 49,3 pada Juli, yang menggambarkan turunnya aktivitas bisnis manufaktur di Tanah Air. Audi berharap normalisasi suku bunga akan diikuti ada sentimen positif untuk industri manufaktur.
Sementara itu, adapun rekomendasi pilihan saham Kiwoom Sekuritas pada sektor bank yakni, buy saham BBCA dengan target harga Rp 11.150, lalu buy BBNI dengan target harga Rp 5.700. Lalu untuk sektor properti buy CTRA dengan target harga Rp 1.435. Dan untuk sektor industrial buy ASII dengan target Harga Rp 5.500.

