Tanda Pemulihan Harga Minyak Dunia belum Terlihat, Bagaimana Imbasnya bagi Saham Migas?
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak dunia menunjukkan penurunan drastis dalam sebulan terakhir. Penurunan tersebut disinyalir bisa berimbas negatif terhadap performa kinerja keuangan dan sejumlah saham emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan datan perdagangan Rabu, (11/9/2024), harga minya Brent terpatau mulai merangkak naik 1,51% ke posisi US$ 70,23 per barel pada pukul 15.04 WIB setelah sempat turun hingga di bawah US$ 70 per barel, tepatnya US$ 68-69 per barel pada perdagangan kemarin.
Baca Juga
SKK Migas Akui Target Lifting Minyak 1 Juta BOPD di 2030 Tidak Realistis, tapi…
Penurunan harga minyak dunia makin dalam setelah OPEC+ merevisi turun proyeksi pertumbuhan permintaan minyak pada 2024 dari 2,11 juta barel per hari menjadi 2,03 juta barel per hari. OPEC+ juga merevisi turun proyeksi pertumbuhan permintaan minyak pada 2025 dari 1,78 juta barel per hari menjadi 1,74 juta barel per hari. Revisi proyeksi mempertimbangkan peningkatan penggunaan motor listrik di China.
Analis Investasi Stockbit Sekuritas Hendriko Gani mengatakan, penurunan harga minyak tersebut bisa berimbas negatif terhadap emiten produsen minyak dan gas (migas) dan yang tergantung pada industri tersebut, seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS), dan PT Elnusa Tbk (ELSA).
Baca Juga
OPEC+ Tunda Kenaikan Produksi Minyak, Bagaimana Pengaruh ke Emiten Migas?
Berdasarkan data perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (11/9/2024), saham MEDC melorot 0,83% menjadi Rp 1.195. Sedangkan saham ENRG ditutup stagnan level Rp 200, saham WINS stagnan di posisi Rp 480, dan saham ELSA turun 2 poin (0,42%) menjadi Rp 470.
Grafik Harga Minyak Brent

