Anggaran Infrastrutur Turun, Bagaimana Imbasnya terhadap Saham Sektornya?
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 400,3 triliun untuk pembangunan infrastruktur dalam Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 5,5% dari anggaran tahun ini senilai Rp 423 triliun.
Penurunan anggaran tersebut dinilai tak menurunkan prospek saham emiten infrastruktur. Emiten sektor ini dinilai bakal tetap bertumbuh, asalkan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dengan baik, sehingga saham-saham sektor ini tetap dipertahankan rekomendasi beli.
Analis Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memaparkan, walaupun anggaran infrastruktur dalam RAPBN 2025 diturunkan, tak terpengaruh terhadap saham sektor ini. Sebab, Pembangunan infrastruktur juga melibatkan berbagai stakeholders, seperti peran swasta.“Selama ini sebagian besar dana proyek infrastruktur berasal dari swasta,” ungkap Nafan saat dihubungi investortrust.id, baru-baru ini.
Baca Juga
Per Juli, Jumlah Transaksi Kripto di Indonesia Tembus Rp 344 Triliun dan Investor Capai 20,59 Juta
Selama emiten infrastruktur mampu mencatatkan pertumbuhan yang progresif untuk kontrak-kontrak baru, baik dari pemerintah maupun swasta, kinerja emiten tersebut diprediksi menguat. “Kalau menurut saya, selama emiten infrastruktur mampu mencatatkan pertumbuhan yang progresif dari sisi kontrak-kontrak, peningkatan kinerja bisa terwujud,” jelasnya.
Selain itu, Nafan menjelaskan, sektor infrastruktur bukan hanya konstruksi saja, telekomunikasi termasuk. Menurutnya, selama stabilitas perekonomian domestik kreatif di terjaga dalam baik dan terjadi strong domestic consumption, permintaan jasa segmen ini akan tetap tumbuh.
Hal ini mendorong Nafan untuk tetap merekomendasikan beli sejumlah saham infrastruktur, seperti saham ADHI dengan target harga Rp 316, accumulative buy saham EXCL dengan target harga Rp 2.280, buy on weakness saham PTPP dengan support Rp 434, dan accumulative buy saham TLKM dengan target harga Rp 3.040.
Baca Juga
Pandangan positif terhadap saham emiten konstruksi juga datang dari tim riset Kiwoom Sekuritas. Sekuritas ini memaparkan bahwa penurunan anggaran pembangunan infrastruktur memang memberikan sentiment kurang baik sektor terkait. Namun demikian, prospek emiten infrastruktur masih tetap menarik untuk dicermati, jika strategi efisiensi proyek dilanjutkan untuk tekan biaya.
“Selain itu terbuka peluang peningkatan investasi proyek infrastruktur, khususnya proyek IKN yang akan melibatkan perusahaan swasta menjadikan saham sektor ini tetap menarik,” terang tim riset Kiwoom Sekuritas.
Oleh sebab itu, Kiwoom merekomendasikan trading buy saham PTPP Rp 500, ADHI Rp 330. Sedangkan saham JSMR direkomendasikan beli dengan target harga 6.500 dan saham TLKM direkomendasikan beli dengan target harga Rp 3.500.
Grafik Saham Konstruksi

