Kenaikan UMP di Bawah Ekspektasi, Begini Imbasnya terhadap Saham Sektor Konsumer
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah telah menetapkan kenaikan rata-rata upah minimum provinsi (UMP) tahun 2024 berkisar 3,5%. Kenaikan setiap provinsi memang bervariasi dalam rentang 1,2% hingga 7,5%.
CGS CIMB Sekuritas menilai bahwa kenaikan UMP tersebut lebih rendah, dibandingkan perkiraan semula. Kondisi tersebut bisa menjadi ancaman terhadap pertumbuhan daya beli konsumen Indonesia tahun depan.
Baca Juga
Jelang Pemilu, Top Picks Saham MYOR, HMSP, GGRM, ICBP, dan MIDI, Begini Asumsinya
“Berdasarkan perhitungan secara asumsi sederhana, jika semua pekerja digaji dengan upah minimum tersebut, kenaikan daya beli tahun 2024 hanya berkisar Rp 322 triliun atau 1,44% dari PDB. Angka tersebut lebih rendah 33% dari kenaikan daya beli tahun lalu,” tulis tim rise CGS CIMB Sekuritas dalam riset yang diterbitkan pekan lalu.
Kenaikan UMP yang minim tersebut, mendorong CIMB Sekuritas untuk berhati-hati terhadap sektor konsumer tahun 2024. Bahkan, penjualan sektor consumer berpotensi turun usai pemilu. Sedangkan saham emiten segmen ritel MAPA, MAPI, dan ACES bisa diuntungkan atas kenaikan gaji yang moderat.
Baca Juga
Meski Target Harga Dipangkas, Saham Mayora (MYOR) Tetap Pilihan Teratas
Berbagai faktor tersebut mendorong CIMB Sekuritas untuk merekomendasikan hati-hati beberapa saham konsumer. Sedangkan pilihan teratas adalah HMSP didukung ekspektasi kenaikan konsumsi selama pemilu. Saham MYOR juga didukung pangsa pasar kuat dan pendapatan ekspor yang terus bertumbuh. Sedangkan saham pilihan lainnya adalah BBNI, BMRI, TLKM, ISAT, EXCL, TOWR, CTRA, dan PWON.

