Analis Sarankan Akumulasi Saham Konsumer di Tengah Penurunan IHSG
JAKARTA, investortrust.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok nyaris 2% pada penutupan perdagangan Sesi I, Senin (5/8/2024).
Head of Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, penurunan signifikan IHSG sejalan dengan penurunan bursa Asia lainnya, disebabkan oleh kekhawatiran resesi di Amerika Serikat (AS).
AS merupakan konsumen minyak terbesar di dunia, yang dibayangi risiko pasokan yang timbul dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Data hari Jumat menunjukkan perlambatan tajam dalam pertumbuhan lapangan kerja di AS, peningkatan angka pengangguran, dan pertumbuhan upah yang lebih lambat.Selain itu sektor manufaktur China secara tak terduga mengalami kontraksi,” ujar Sukarno saat dibuhungi investortrust.id, Senin (5/8/2024).
Baca Juga
Menurut Sukarno, secara jangka pendek IHSG sudah dapat dikatakan memasuki ke tren penurunan sebab sudah breakdown support area sideways.
Kendati demikian, Kiwoom masih akan mencermati bahwa data domestik selanjutnya seperti pertumbuhan GDP di kuartal II. Apabila mampu tumbuh di atas ekspektasi, Sukarno menilai penurunan indeks saat ini dapat menjadi momentum untuk mengoleksi saham-saham bluechip di harga rendah.
Oleh sebab itu, saat kondisi pasar sedang turun parah, investor dapat memperhatikan saham di sektor consumer seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) & PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) yang diproyeksi hari ini mampu menguat, terutama seperti SILO lantaran kinerja per kuartal II-2024 berhasil tumbuh baik itu secara tahunan (yoy) dan kuartalan (qoq).
Selain itu, investor dapat memantau saham-saham yang juga berkaitan dengan penurunan IHSG hari ini seperti bluechips perbankan saat terjadi pembalikan arah (momentum buyback).
Baca Juga
Lima Saham Ini Bikin Pemodal Tetap Riang, Meski IHSG Sesi I Terjun 2%
“Selain itu bisa diperhatikan juga saham di sektor komoditas emas dan coal karena secara pergerakan harga komoditas yang bersangkutan sedang mengalami penguatan di tengah tensi geopolitik. Hanya saja tinggal menunggu respons pasar seperti apa atau lebih menunggu sinyal buy lanjutan karena saat ini saham-sahamnya sedang koreksi,” terangnya.
Di sisi lain, analis Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memaparkan bahwa penurunan IHSG tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti pertama, data-data manufacturing PMI yang di bawah 50 poin.
Hal ini menunjukan adanya kontraksi yang menandakan bahwa potensi terjadinya sentimen perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang mempengaruhi jumlah orders dan output dan kurangnya penyerapan tenaga kerja.
Kedua, berkaitan dengan data US Non-Farm Payroll yang hasilnya juga dibawa ekspektasi. Di samping itu, pengangguran AS juga mengalami meningkat 4,3%, yang mencapai level tertinggi sejak Oktober 2021. Berikutnya, juga terdapat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Di samping itu, sentimen domestik menentukan data GDP yang mana estimasi Bloomberg hanya tumbuh di bawah 5% atau 4,98% yoy.
“Kita menantikan data BPS, ini berkaitan dengan efek dari adanya kebijakan suku bunga tinggi yang telah diterapkan oleh Bank Indonesia, karena dari Amerika Serikat masih sama ya 0% tapi Indonesia sudah terjadi penaikan 2,5 basis poin,” ujar Nafan kepada investortrust.id, Senin (5/8/2024).
Oleh sebab itu, Nafan menilai bahwa momen ini adalah saat yang tepat bagi investor untuk mendapatkan harga saham yang lebih menarik atau lebih murah.
Nafan mencermati, sektor-sektor saham yang dapat dicermati adalah saham sektor financials, cyclicals, infrastructures, transportation, technology, property.
“Jadi untuk reakumulasi beli kembali juga bisa dilakukan dengan dengan ini ya, dengan orientasi jangka panjang ya,” paparnya.

