Semester I-2024, Rugi Bersih Blibli (BELI) Turun 31,36%
JAKARTA, investortrust.id – Rugi bersih PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli (BELI) pada semester I-2024 turun 31,36% (yoy) menjadi Rp 1,19 triliun. Capaian ini diikuti kenaikan tipis pendapatan bersih sepanjang Januari-Juni 2024 dari Rp 7,77 triliun menjadi Rp 7,85 triliun.
CEO sekaligus Co-Founder Blibli, Kusumo Martanto menjelaskan bahwa kenaikan pendapatan ditopang kinerja kuat pada kategori produk elektronik konsumen. Hal ini didukung peningkatan volume penjualan smartphone, kenaikan kontribusi dari usaha online travel agent (OTA), serta kontribusi yang lebih tinggi dari segmen toko fisik.
“Didukung pula oleh perluasan jaringan toko elektronik konsumen yang berkelanjutan, sebagian diimbangi dengan optimalisasi bauran produk lintas kategori pada segmen ritel 1p,” jelas manajemen, Rabu (31/7/2024).
Baca Juga
Blibli (BELI) Milik Grup Djarum Akuisisi Dekoruma Rp 1,16 Triliun
Segmen ritel 1p merupakan perdagangan business to consumer (B2C) daring Blibli untuk berbagai produk dan layanan pihak pertama (1P) dari berbagai kategori.
“Kami memulai tahun ini dengan melewati periode tantangan ekonomi dan variabilitas permintaan sebelum pemilu. Namun dengan gembira dapat saya sampaikan jika perseroan telah menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan margin yang luar biasa sepanjang paruh pertama tahun ini,” ujar Kusumo.
Perseroan juga tercatat meningkatkan margin bruto konsolidasinya dari 15,3% pada semester I-2023 menjadi 19,7% pada semester I-2024. Peningkatan sebesar 440-bps secara year on year (yoy) ini, sebagian besar dikontribusi oleh peningkatan margin bruto pada hampir seluruh segmen usaha.
Capaian semester pertama pun Kusumo nilai telah sesuai dengan fokus perseroan ke arah profitabilitas. “Kinerja yang teguh ini menggarisbawahi kekuatan model usaha kami dan landasan kokoh yang telah kami bangun untuk kesuksesan yang berkelanjutan,” sambungnya.
Sepanjang periode tersebut, perseroan mengeklaim telah berhasil meningkatkan keunggulan operasionalnya sehingga menghasilkan struktur biaya yang lebih baik. Hal ini tercermin dari lebih rendahnya persentase beban operasional konsolidasi terhadap total processing value (TPV) dari 7,9% pada semester pertama tahun lalu menjadi 7,5% di paruh pertama tahun ini.
Manajemen Blibli menjelaskan, turunnya beban operasional terutama didukung persentase beban iklan dan pemasaran yang lebih rendah terhadap TPV, menjadi 0,9% (yoy). Sedangkan persentase beban umum dan administrasi terhadap TPV diklaim stabil sebesar 5% (yoy) pada enam bulan pertama tahun ini.
Baca Juga
Blibli (BELI) Gelar MESOP 2,40 Miliar Saham, Segini Harga Pelaksanaannya
“Meskipun terdapat tambahan biaya sewa toko dan karyawan akibat dari perluasan toko fisik elektronik konsumen,” imbuh Kusumo.
Dengan peningkatan margin bruto konsolidasi dan struktur biaya yang lebih baik secara keseluruhan, perseroan memperbaiki kinerja kerugiannya. Ini bisa dilihat dari penurunan persentase EBITDA konsolidasi terhadap TPV dari -4,3% pada Januari-Juni 2023 menjadi -2,9% pada semester I-2024 atau meningkat 140 bps (yoy).
“Strategi pertumbuhan omnichannel yang selektif, upaya yang ketat untuk meningkatkan laba bruto, dan pengendalian biaya yang disiplin telah efektif meningkatkan kinerja kerugian EBITDA konsolidasi kami sebesar 38% (yoy) pada kuartal II-2024,” jelas Direktur Keuangan Blibli, Ronald Winardi.
Di sisi lain, perseroan menggunakan arus kas bersih untuk aktivitas operasi sebesar Rp 2,01 triliun pada paruh pertama tahun ini, sedikit membaik dari Rp 2,32 triliun di periode serupa tahun lalu.
Sementara itu, peningkatan kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi, utamanya didorong penyelesaian pembelian Dekoruma pada Juni 2024.
Akuisisi strategis Dekoruma oleh Blibli menandai langkah penting perusahaan dalam memperluas portofolio omnichannel ke dalam kategori produk home and living.
Inisiatif-inisiatif ini dirancang untuk menciptakan pengalaman omnichannel yang lancar dan berkelanjutan bagi pelanggan, hingga menjembatani dunia daring dan luring secara efektif dan tanpa hambatan.
“Peningkatan margin, penurunan beban operasional, dan manajemen modal kerja yang lebih baik berkontribusi pada arus kas operasional yang berkelanjutan, sehingga menghasilkan posisi kas dan setara kas sebesar Rp 1,58 triliun per 30 Juni 2024,” ucap Ronald. (CR-10)
Grafik Harga Saham BELI secara Ytd:

