Potensi Cuan Saham BBNI masih Besar, Analis Ini Ungkap Faktanya
JAKARTA, investortrust.id - CGS International Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), seiring peluang besar penurunan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Akhir pekan lalu saham BBNI menguat hingga 155 poin (3,18%) ke level 5025. Sedangkan pada perdagangan sesi I intraday di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (15/7/2024), saham BBNI melemah Rp 25 menjadi Rp 5.000.
Baca Juga
Rilis Super App wondr, BNI (BBNI) Bidik Pertumbuhan Tabungan hingga 30%
“Apabila dihitung sejak level terendah saham BBNI, yaitu pada 19 Juni 2024 sentuh level Rp 4.300 dan dibandingkan dengan harga penutupan akhir pekan lalu, penguatan saham BBNI sudah pesat,” ujar Retail Research Team Leader CGS International Sekuritas Indonesia Mino dalam risetnya, Senin (15/7/2024).
Kenaikan tersebut, terang Mino, didukung factor BBNI akan menjadi salah satu emiten yang diuntungkan dari pemangkasan suku bunga karena dari marginnya kondisi likuiditas perbankan yang ketat yang mana Loan to Deposit Ratio (LDR) cukup tinggi sehingga perbankan harus berebut dana masyarakat dengan cost of fund yang tinggi.
"Jadi kalau suku bunga turun, cost of fund turun, margin naik, kinerja mereka juga akan naik,” ungkapnya.
Baca Juga
Saham BNI (BBNI) Anjlok Usai Rilis Keuangan, Dua Analis Ini Ungkap Prospek Sesungguhnya
Oleh sebab itu, CGI International Sekuritas Indonesia merekomendasikan add saham BBNI dengan target harga Rp 5.700 atau terbuka penguatan 13% dari harga penutupan pekan lalu (12/7/2024). Secara teknikal BBNI juga masih bullish.
“Jadi cukup menarik untuk resistance mereka, dijual 5200 jadi masih menarik untuk trading. Volumenya juga untuk pekan lalu cukup tinggi masih mempertegas potensi adanya kenaikan,” pungkas Mino.
Saham BBNI
