Intip Target Harga Terbaru Saham BNI (BBNI), Potensi Cuan hingga 43%
JAKARTA, investortrust.id – Keberhasilan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) membukukan laba bersih Rp 16,1 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 7% secara tahunan (year on year/yoy) direspons positif analis. Keberhasilan tersebut mendorong saham BBNI layak direkomendasikan beli.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 4.800. Target tersebut tidak berubah meskipun proyeksi laba bersih perseroan pada 2027 dan 2028 dipangkas akibat tekanan net interest margin (NIM). Begitu juga dengan Mandiri Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli saham BMRI dengan target harga Rp 4.000 per saham. Dengan harga penutupan BBNI kemarin level Rp 3.350, potensi cuan berkisar 19-43%.
BBNI mencatatkan laba bersih Rp 5,4 triliun pada kuartal III-2026, meningkat 5% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq) dan 7% secara tahunan. Dengan pencapaian tersebut, laba bersih Januari–September 2026 mencapai Rp 16,1 triliun, naik 7% yoy. Kinerja tersebut, terang BRI Danareksa Sekuritas, sudah sesuai dengan estimasi analis dan konsensus pasar. Pencapaian laba sembilan bulan setara dengan 75% dari proyeksi setahun penuh analis dan 77% dari konsensus.
Baca Juga
BNI (BBNI) Catat PPOP Rp 27,5 Triliun di kuartal III 2026, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Namun, pertumbuhan laba BBNI masih ditopang oleh penurunan biaya pencadangan dan peningkatan pendapatan pemulihan kredit. Kedua faktor tersebut mengimbangi tekanan terhadap profitabilitas inti akibat penyusutan NIM dan kenaikan biaya operasional. NIM BBNI secara bank-only turun 30 basis poin secara kuartalan menjadi 3,3% pada kuartal III-2026. Pada saat bersamaan, biaya dana (cost of fund/CoF) melonjak 53 basis poin menjadi 3,16%, dipicu persaingan penghimpunan deposito setelah pengumuman penarikan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pada Juni 2026.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BBNI tumbuh 2,5% qoq dan 22% yoy menjadi Rp 992 triliun pada September 2026. Pertumbuhan terutama ditopang segmen wholesale yang meningkat 31% yoy, atau 22% jika tidak memasukkan Agrinas. Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 2% qoq dan 20% yoy. Rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) tercatat sebesar 88,3%.
Manajemen BBNI menaikkan panduan pertumbuhan kredit 2026 menjadi 10-13%, dari sebelumnya 8-10%. Perseroan tetap mempertahankan target NIM sebesar 3,3-3,5% dan CoC sebesar 1-1,2%. Di sisi pendanaan, deposito terkait penarikan SAL diperkirakan turun menjadi sekitar Rp55 triliun pada November 2026, dari Rp75 triliun pada September 2026. Namun, biaya dana diperkirakan masih bertahan tinggi hingga semester I-2027.
Baca Juga
Sementara itu, Mandiri Sekuritas menilai pertumbuhan laba 7% yoy pada sembilan bulan pertama 2026 didukung pertumbuhan kredit 22% dan kenaikan pendapatan nonbunga 7%. Mandiri Sekuritas juga menilai laju biaya kredit masih sesuai jalur untuk memenuhi panduan perseroan sebesar 1-1,2% pada 2026. Cakupan pencadangan LaR tercatat stabil di level 48,3%, yang dinilai cukup sebagai penyangga terhadap potensi tekanan di masa mendatang.
ROE BBNI meningkat menjadi 13,1% selama Januari–September 2026, didukung penggunaan leverage yang lebih optimal. Meski Mandiri Sekuritas mempertahankan pandangan positif, sejumlah risiko tetap perlu dicermati, antara lain biaya dana yang bertahan tinggi, potensi penurunan rasio pembayaran dividen, serta kenaikan NPL segmen konsumer.
