Intip Target Harga Terbaru Saham Antam (ANTM) Ini, Potensi Cuan masih Mengkilap
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) masih menyimpan ruang kenaikan yang signifikan. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp 4.800 per saham, yang menyiratkan peluang kenaikan 54,82% dari posisi Rp 3.100. Prospek pertumbuhan laba dan kuatnya margin bisnis nikel menjadi penopang utama, meski pemulihan penjualan emas masih menjadi perhatian.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Taufan Fadhillah dan Andhika Audrey mengatakan, optimisme terhadap saham ANTM didukung oleh kinerja keuangan semester I-2026 yang melampaui ekspektasi, meski laba pada kuartal II-2026 mulai mengalami normalisasi dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal II-2026, pendapatan Rp 33,4 triliun atau naik 13,9% secara kuartalan dan 1,6% secara tahunan. Sementara laba bersih mencapai Rp 3 triliun, turun 12,5% secara kuartalan, tetapi masih tumbuh 16,2% secara tahunan.
Secara kumulatif, pendapatan ANTM pada semester I-2026 mencapai Rp 62,7 triliun atau tumbuh 6,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara laba bersih mencapai Rp 6,4 triliun, melonjak 36% secara tahunan. Realisasi laba tersebut telah mencapai 69,7% dari estimasi laba bersih tahun 2026. Capaian itu juga berada di atas ekspektasi sebelumnya, dengan laba semester I-2026 mencapai sekitar 70% dari proyeksi laba setahun penuh.
Baca Juga
Laba Antam (ANTM) Lompat 34% hingga Pegang Kas Bersih Rp 9,23 triliun di Semester I-2026
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa kinerja ANTM pada kuartal II-2026 mendapat dukungan kuat dari bisnis nikel. Penjualan nikel bertumbuh 32,4% secara tahunan serta bauksit dan alumina meningkat 28,3%. Harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) nikel mencapai US$ 80 per ton pada kuartal II-2026, naik 18,7% secara kuartalan dan 44,1% secara tahunan.
Kenaikan harga jual tersebut mendorong net profit margin (NPM) bisnis nikel meningkat menjadi 54,5%, atau naik 410 basis poin secara kuartalan. “Penguatan margin nikel menjadi faktor penting yang membantu mengimbangi normalisasi profitabilitas emas,” tulisnya.
Sebaliknya, ASP emas turun menjadi US$ 4.753 per ons, atau terkoreksi 9,2% secara kuartalan, seiring normalisasi harga emas global. Meski demikian, harga tersebut masih lebih tinggi 38,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Volume penjualan emas meningkat menjadi 9,6 ton atau naik 13,6% secara kuartalan. Namun, NPM emas mengalami normalisasi menjadi 4,4%, turun 610 basis poin secara kuartalan.
Prospek Tetap Positif
Dengan performa kuat bersamaan dengan ekspektasi harga komoditas tetap tinggi, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ANTM dengan target harga Rp 4.800. Pertumbuhan bisnis serta kontribusi margin yang kuat dari segmen nikel diharapkan jadi penopang.
Untuk tahun 2026, ANTM diproyeksikan membukukan pendapatan Rp 113,3 triliun, naik dari Rp 84,6 triliun pada 2025. EBITDA diperkirakan meningkat menjadi Rp13,5 triliun atau tumbuh sekitar 30,3%. Laba bersih diestimasi melonjak menjadi Rp 9,03 triliun pada 2026, naik 25,3% dibandingkan tahun lalu bernilai Rp 7,21 triliun.
Baca Juga
Hormuz Terancam, Lalu Lintas Tanker Anjlok dan Harga Minyak Melonjak
Prospek pertumbuhan juga masih berlanjut pada tahun selanjutnya. Pendapatan diproyeksikan meningkat menjadi Rp 114,3 triliun pada 2027 dan Rp 122,7 triliun pada 2028. Laba bersih diperkirakan mencapai Rp 9,48 triliun pada 2027 sebelum meningkat menjadi Rp 11,71 triliun pada 2028.
Meski prospek jangka menengah tetap positif, terdapat sejumlah faktor yang perlu diperhatikan, terutama terkait pemulihan volume penjualan emas. Semester I-2026, penjualan emas ANTM baru mencapai 18,1 ton. Di sisi lain, Freeport diperkirakan hanya akan memasok sekitar 12-15 ton emas sepanjang 2026, sehingga berpotensi membatasi pemulihan volume penjualan pada semester II-2026.
