Target Harga Pertamina Geothermal (PGEO) masih Jumbo, Berikut Faktor Pendorongnya
JAKARTA, Investortrust.id – PT Pertamina Geothermal Indonesia Tbk (PGEO) menyimpan potensi pertumbuhan pesat dalam jangka panjang. Hal ini didukung besarnya sumber daya panas bumi dan kebijakan pemerintah untuk mengurangi emisi gas buang dengan sumber energi ramah lingkungan.
Analis Sinarmas Sekuritas Inav Haria Chandra mengatakan, Pertamina Geothermal (PGEO) merupakan perusahaan geothermal terdepan di Indonesia yang mengoperasikan 13 pembangkit listrik dengan kapasitas 1.877 MW. Kapasitas tersebut setara dengan 83% dari total kapasitas pembangkit listrik geothermal di Indonesia.
Baca Juga
Lirik Proyek Panas Bumi di Kenya, Pertamina Geothermal (PGEO) Tandatangani Kerja Sama Berikut
“Kami jgua menilai bahwa PGEO sebagai anak usaha Pertamina memiliki positif unik untuk lebih unggul, karena induk usahanya unggul di industri minyak dan gas. Hal ini membuat perseroan bisa lebih unggul dengan perusahaan geothermal lainnya,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan, kemarin.
Pertamina geothermal, terang dia, juga didukung besarnya sumber daya panas bumi di Indonesia yang siap dikembangkan. Apalagi pemerintah tengah gencar mendorong pengembangan sumber energi ramah lingkungan panas bumi ini dari sebelumnya batubara.
Kondisi tersebut merupakan potensi besar bagi perseroan untuk berkontribusi lebih besar lagi dalam pengembangan energi terbarukan dari pembangkit listrik batubara menjadi pembangkit listrik panas bumi. Apalagi Pertamina Geothermal memiliki hubungan yang baik dengan pemerintah dan PT Pembangkit Listrik Negara (PLN).
Baca Juga
Ini yang Bikin Neraca Perdagangan Agustus Surplus US$ 3,12 Miliar
“Pertamina Geothermal akan memperoleh manfaat yang signifikan dengan perkiraan tambahan kapasitas terpasang sebanyak 3,4 GW atau dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebanyak 10% dalam dekade berikutnya,” tulisnya.
Selain faktor tersebut, dia mengatakan, Pertamina Geothermal didukung ekspansi luar negeri. Perseroan baru-baru ini telah membentuk kerjasama dengan AGIL untuk menjajaki pengembangan pembangkit listrik panas bumi di Africa.
Perseroan juga akan didukung sentimen positif pengoperasian pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) binary organic rankine cycle pertama pada 2026-2027. Proyek ini akan menambah portofolio dan kemampuan perseroan dalam pengembangan pembangkit listrik ramah lingkungan ke depan.
“Keberhasilan ini akan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengembangkan sumber daya bersuhu sedang. Hal tersebut diyakini menjadi faktor penting untuk membuka pertumbuhan perseroan ke depan,” tulisnya.
Baca Juga
Wapres: Pemerintah Jamin Investasi Tiongkok di Semua Kawasan Industri
Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuitas merekomendasikan beli saham PGEO dengan target harga Rp 1.900. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan EV/EBITDA tahun 2023 sekitar 13,4 kali. Harga saham PGEO saat ini dinilai masih undervalue, dibandingkan dengan prospek pertumbuhan dalam jangka panjang.
Sinarmas Sekuritas menargetkan laba bersih perseroan melesat menjadi US$ 170 juta pada 2023, dibandingkan realisasi tahun 2022 sekitar US$ 127 juta.
Harga Melesat
Sedangkan berdasarkan data perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Jumat (15/9/2023), saham PGEO ditutup melesat Rp 155 (12,60%) menuju level tertingi baru Rp 1.385. Saham ini bergerak dalam rentang Rp 1.240-1.390.
Terhitung sejak listing perdana saham di BEI pada 24 Feburari, saham PGEO telah melesat 58,28% dari level Rp 875 menjadi Rp 1.385. Bahkan, dalam beberapa pekan terakhir terlihat konsistensi penguatan harga saham ini.

