Wajib Tahu! Ini 6 Hal yang Perlu Dilakukan Investor untuk Hadapi Krisis Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah ketidakpastian geopolitik, PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas) menekankan kepada para investor dan calon investor mengenai pentingnya pembelajaran dalam menghadapi dampak yang terjadi. Pasalnya, tindakan politik, perubahan regulasi, sengketa perdagangan, dan ketegangan antarnegara dapat menciptakan ketidakstabilan di pasar keuangan.
SEVP Retail Markets & Technology BNI Sekuritas, Teddy Wishadi mengatakan, pembelajaran dari krisis ekonomi masa lalu menjadi modal berharga bagi investor, seperti krisis moneter di Asia pada 1997-1998 yang berdampak luas, termasuk di Indonesia, serta krisis ekonomi Argentina pada 2024 yang menyebabkan angka pengangguran melonjak, penurunan daya beli, dan meningkatnya ketidakpastian sosial.
“Dari pengalaman ini kita ketahui perubahan geopolitik tiba-tiba dapat merusak stabilitas pasar keuangan, memicu inflasi signifikan, dan gejolak sosial. Oleh karena itu, pemahaman akan sejarah dan kesiapan untuk menghadapi potensi krisis serupa diperlukan oleh investor dan calon investor,” ujar Teddy dalam keterangan resmi, Kamis (27/6/2024).
Baca Juga
Teddy Wishadi menambahkan, sangat penting bagi investor untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin sebagai referensi berinvestasi. Informasi dapat diperoleh dari situs web perusahaan, liputan media, atau rekomendasi tim riset.
“Misalnya tim riset Ritel BNI Sekuritas melalui program Morning Investview yang memberikan pandangan bagi investor setiap harinya,” tutur dia.
Berbekal pemahaman yang baik tentang fundamental perusahaan, menurut Teddy, investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih berdasarkan analisis yang objektif.
“Dengan menerapkan strategi-strategi ini, investor diharapkan lebih siap menghadapi ketidakpastian dan melindungi investasinya dari dampak krisis ekonomi,” kata dia.
Teddy mengungkapkan, BNI Sekuritas melalui BIONS (BNI Sekuritas Innovative Online trading Systems) berupaya menjadi mitra investasi bagi setiap nasabah dan mendukung mereka untuk dapat mencapai kemerdekaan finansialnya.
“Termasuk dalam merancang strategi investasi yang sesuai dengan kebutuhan dan profil risiko masing-masing,” tegas dia.
Baca Juga
Berikut beberapa tips versi BNI Sekuritas yang dapat membantu investor mengelola investasi apabila krisis ekonomi terjadi:
1. Diversifikasi Portofolio Investasi
Salah satu kunci utama menghadapi krisis adalah diversifikasi. Saat krisis ekonomi ataupun tidak, investor sebaiknya menaruh investasi di berbagai instrumen saham dan di berbagai industri.
Diversifikasi diharapkan dapat mengatasi kerugian yang terjadi apabila salah satu instrumen atau industri tidak dalam performa terbaiknya. Diversifikasi membantu mengurangi risiko karena tidak semua aset akan terpengaruh secara negatif pada saat yang sama.
2. Fokus pada Investasi Jangka Panjang
Saat krisis ekonomi, kemungkinan besar beberapa sektor industri akan turun nilai sahamnya, sehingga investor diharapkan tidak mudah panik dan terkena godaan untuk menjual aset. Pasalnya, pasar akan pulih seiring waktu.
Berkaca pada krisis 1997-1998, pemulihan pasar saham di Indonesia berlangsung secara bertahap. Pada awal 2000-an, indeks harga saham gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang stabil. Kemudian, IHSG kembali mencapai level pra-krisis pada pertengahan dekade 2000-an dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2007, IHSG mencapai rekor tertinggi baru yang melampaui level sebelum krisis.
3. Pertimbangkan Investasi dalam Aset Defensif
Saat krisis, beberapa sektor seperti kebutuhan pokok, kesehatan, dan utilitas cenderung lebih stabil dibandingkan sektor lain. Investasi dalam aset defensif bisa memberikan perlindungan tambahan terhadap volatilitas pasar. Investor dapat mempertimbangkan obligasi pemerintah yang juga dianggap sebagai safe haven selama periode ketidakpastian ekonomi.
4. Siapkan Dana Darurat
Selain berinvestasi, investor disarankan untuk mempersiapkan dana darurat yang bersifat likuid, seperti uang tunai. Hal ini bermanfaat untuk berjaga-jaga. Apabila krisis terjadi, dana tersebut dapat menjadi bantalan finansial jika pendapatan turun atau kehilangan pekerjaan. Alhasil, investor tidak harus secara gegabah menjual aset investasi saat nilai sedang rendah.
5. Manfaatkan Kesempatan dalam Krisis
Selain bersiap mempertahankan nilai investasi yang dimiliki, saat krisis, investor memiliki peluang investasi yang mungkin tidak selalu muncul pada waktu normal. Misalnya aset berkualitas yang dijual dengan harga lebih rendah daripada biasanya.
Investor dapat menggunakan dana darurat untuk mempertimbangkan membeli aset yang undervalued. Namun, pastikan untuk melakukan riset menyeluruh dan konsultasi dengan penasehat keuangan sebelum mengambil keputusan.
6. Tetap Terinformasi dan Beradaptasi
Tetaplah mengikuti perkembangan ekonomi dan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi pasar. Tinjau kinerja keuangan, prospek bisnis, manajemen, dan faktor-faktor lain yang memengaruhi nilai saham.

