Bidik Peluang, Ava Labs Integrasikan Web3 di Industri K-Pop
JAKARTA, investortrust.id - Industri Korean Pop (K-Pop) dikenal dengan basis penggemar besar dan sangat berdedikasi. Melihat peluang besar, Ava Labs, perusahaan dibalik blockchain Avalanche, berupaya memfasilitasi adopsi teknologi web3 guna memberikan solusi manajemen kekayaan intelektual kepada artis K-Pop Korea Selatan.
Melansir Cointelegraph, Kamis (27/6/2024), dalam laporan Allied Research terbaru, valuasi industri K-Pop diperkirakan mencapai US$ 20 miliar atau setara Rp 328,61 triliun pada 2031 mendatang. Jumlah ini mencakup penjualan tiket, kesepakatan sponsorship, dan merchandise.
Kepala Operasi Ava Labs Korea Selatan, Justin Kim mengungkapkan, pihaknya tengah menjalin kerjasama dengan konglomerat industri besar di Korea Selatan yang dikenal sebagai “chaebol” untuk memfasilitasi adopsi teknologi web3.
Baca Juga
Gandeng Bappebti dan CFX, PINTU Bahas Regulasi, Ekosistem, dan Web3 di Institut Pariwisata Trisakti
Web3 sendiri merupakan generasi internet terbaru yang sedang dikembangkan menggunakan teknologi blockchain. Web3 memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dan berbisnis dengan pengguna lain secara langsung tanpa perantara pihak ketiga seperti bank atau sosial media.
Menurut Kim, salah satu kemitraan penting adalah dengan SK Group, konglomerat terbesar ketiga di negara itu. Kemitraan ini berfokus pada penerapan sistem tiket berbasis non fungible token (NFT) untuk konser K-Pop, memanfaatkan infrastruktur teknologi SK Group yang luas.
Ia melanjutkan, kolaborasi juga menjadi hal yang sangat penting, terutama dengan perusahaan besar yang sudah mapan untuk mendorong adopsi ritel. “Perusahaan-perusahaan ini sudah memiliki basis pengguna yang besar, yang seringkali tidak dimiliki oleh startup web3 yang lebih kecil.
Baca Juga
Volume Penjualan NFT Bitcoin Capai Rp 65 Triliun di Sepanjang Masa
Dikatakan Kim, penggunaan NFT dan aplikasi web3 lainnya dapat meningkatkan keterlibatan penggemar dan memastikan kompensasi yang adil bagi para artis.
“NFT dapat memberikan catatan penjualan yang akurat dan transparan, mengatasi masalah transparansi keuangan yang sering dihadapi industri K-Pop,” ucapnya.

