Seluk-beluk Zipmex, Platform Perdagangan Kripto di Indonesia yang akan Ditutup
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat jumlah investor aset kripto per Mei 2024 mencapai 19,75 juta orang. Jumlah tersebut tercatat menurun dibanding sebulan sebelumnya yang sudah menembus angka 20,16 juta orang.
Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi Bappebti Tirta Karma Sanjaya mengatakan, penurunan tersebut dikarenakan PT Zipmex Exchange Indonesia (Zipmex), platform investasi aset digital yang sedang dalam proses penutupan perusahaan.
“(Zipmex, red) Masih dalam proses. Ditutup kalau sudah clean clear urusan nasabah dan dana-dananya,” katanya kepada investortrust.id, Senin (24/6/2024).
Adapun proses pengajuannya sendiri, sudah berlangsung sejak 2 hingga 3 bulan terakhir. Oleh karena itu, Zipmex diminta untuk melakukan pengembalian dana kepada nasabah. "Zipmex indonesia yang mengajukan penutupan dan Bappebti memastikan semua kewajiban PT terhadap nasabah sudah selesai baru dilakukan penutupan melalui SK Pencabutan Izin," ucap Tirta.
Baca Juga
Zipmex dalam Proses Penutupan, Jumlah Investor Kripto Turun Jadi 19,75 Juta per Mei
Ia pun menilai, pengajuan penutupan Zipmex Indonesia tidak berhubungan dengan kasus yang saat ini sedang berlangsung di Thailand. Menurutnya tidak terdapat indikasi pelanggaran karena sejak kasus Zipmex mencuat di Thailand. "Holding Zipmex global yang memutuskan untuk tidak investasi di crypto exchange," katanya.
Sementara menilik laman resminya, Zipmex disebutkan akan menonaktifkan layanan deposit dan perdagangan aset, kripto dan fiat. Pelanggan Zipmex disarankan untuk menarik aset (kripto dan fiat) dari dompet secara manual melalui layanan pelanggan kami yang dapat memakan waktu 7-14 hari kerja untuk diselesaikan setelah perusahaan menerima formulir penarikan dan dokumen yang diperlukan secara lengkap.
"Seluruh aset tetap aman dan terlindungi di platform Zipmex Indonesia dan dapat ditarik sesuai dengan hukum yang berlaku dan ketentuan layanan kami kapan saja," tulis keterangan Zipmex dalam laman resminya, 14 April 2024 lalu .
Dituliskan juga bahwa semua pengguna sangat dianjurkan untuk menarik aset (kripto dan fiat) sesegera mungkin. Adapun untuk penarikan, saat ini tidak ada batas waktu yang ditetapkan bagi pelanggan untuk menarik dana. "Namun, kami sangat menyarankan pelanggan menarik dana (kripto dan fiat) secepat mungkin. Untuk pengalaman yang lebih baik, silakan gunakan browser untuk mengakses platform," tulis keterangan resmi tersebut.
Tim dukungan pelanggan Zipmex menurutnya akan tersedia Senin – Minggu pukul 09:00 – 18:00 untuk membantu menjawab pertanyaan atau permasalahan apa pun selama proses transisi.
"Kami akan terus memberikan pembaruan dan informasi melalui saluran komunikasi resmi kami, termasuk email dan saluran media sosial kami. Harap ingat untuk hanya memercayai saluran resmi, dan waspada terhadap penipu. Kami tidak akan pernah mengirim DM Anda terlebih dahulu di Facebook, Telegram, Line, atau Whatsapp dan tidak akan pernah menghubungi Anda dari alamat email pribadi atau melalui platform perpesanan situs media sosial. Kami hanya menggunakan alamat email yang diakhiri dengan @zipmex.com; email dari alamat email lain bukan dari Zipmex Indonesia," tulisnya.
Sebagai informasi, Zipmex merupakan salah satu platform kripto yang beroperasi di empat negara yaitu Indonesia, Thailand, Singapura, dan Australia. Zipmex baru-baru ini menghadapi krisis besar yang juga berdampak signifikan di Indonesia. Zipmex mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 2020, setelah mendapatkan lisensi Bappebti. Dengan lisensi ini, Zipmex menawarkan berbagai layanan perdagangan aset digital yang menarik banyak investor di Indonesia. Pertumbuhan pesat Zipmex menunjukkan tingginya minat dan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap perdagangan kripto.
Terkait pendanaan, tahun 2021 lalu Zipmex Indonesia mendapatkan pendanaan Seri B sebesar US$ 41 juta. Pendanaan tersebut dipimpin oleh Krungsri Finnovate Company Limited, sebuah perusahaan modal ventura yang merupakan anak perusahaan dari Bank Ayudhya, dan didukung oleh Plan B Media Public Company Limited dan Master Ad Public Company Limited. Pendanaan tersebut juga menjadikan Bank of Ayudhya, bagian dari Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG), salah satu bank pertama di dunia dan di Asia Tenggara yang berinvestasi dalam platform aset digital.
Tak hanya itu, pada Juni 2021, Zipmex juga sempat melirik opsi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) 2-3 tahun dari saat itu.
Co-Founder dan CEO Zipmex Marcus Lim kala itu mengatakan, Zipmex memiliki rencana untuk tercatat di Bursa Nasdaq, Amerika Serikat dan Bursa Efek Hong Kong. Tak hanya di dua bursa itu, Zipmex juga ternyata melirik untuk IPO di BEI. ”Kami memang punya rencana untuk dual listing bahkan tiga listing di Nasdaq, Hang Seng, dan BEI. Kami akan pelajari dulu dan sedang melihat regulasinya,” katanya.
Dia mengungkapkan keinginannya untuk bisa menjadi perusahaan terbuka karena melihat pertumbuhan bisnis Zipmex yang terus meningkat dengan dukungan komunitas yang kuat. ”Indonesia merupakan target pasar yang strategis,” katanya.
Baca Juga
Binance Bantu Bursa Kripto Turki dalam Investigasi Peretasan dan Bekukan Rp 87,2 Miliar Dana Curian
Namun rencana itu kandas, pada tahun 2022, pasar kripto global mengalami penurunan signifikan yang mempengaruhi likuiditas dan operasional Zipmex. Penurunan nilai aset digital secara drastis menyebabkan banyak bursa kripto, termasuk Zipmex, menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan operasional mereka.
Seperti yang diungkapkan dalam pernyataan tertulis yang diajukan dalam proses di Singapura, alasan utama penurunan ini adalah paparan terhadap Babel Finance dan Celsius yang disebabkan oleh kebangkrutan mereka baru-baru ini dan musim dingin kripto. Total eksposur bersih terhadap Babel Finance dan Celsius, pada tanggal pengajuan permohonan moratorium, masing-masing sekitar US$ 48 juta dan US$ 5 juta.
Meski begitu pada awal tahun 2023, Zipmex mencoba melakukan beberapa upaya restrukturisasi untuk memperbaiki kondisi keuangan mereka. Perusahaan mengumumkan rencana untuk mengurangi biaya operasional dan mencari investor baru untuk menyuntikkan modal segar. Namun nampaknya upaya tersebut kurang membuahkan hasil.
Di negara lain, teranyar Menteri Keuangan Thailand mencabut izin usaha broker dan perdagangan aset digital Zipmex pada 10 Juni 2024 lalu. Keputusan tersebut berlaku efektif sejak 28 Mei dan memerintahkan crypto exchange Zipmex untuk menghentikan seluruh aktivitasnya di Thailand.
Dalam keterangan resmi, keputusan tersebut diambil berdasarkan rekomendasi dari Dewan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Thailand. Regulator melihat bahwa kondisi keuangan Zipmex bisa menimbulkan dampak yang merugikan bagi masyarakat dan juga perusahaan.
Fakta bahwa Zipmex memiliki struktur manajemen dan personel yang tidak tepat untuk menjalankan bisnis yang efisien dan bertanggung jawab juga menjadi salah satu pertimbangan SEC.
“Pada rapat tanggal 11 Januari dan 21 Februari 2024, Zipmex sudah mendapatkan perintah untuk memperbaiki operasinya. Namun sampai dengan waktu yang diputuskan, perusahaan belum juga melakukan hal itu,” ujar SEC.
Oleh karena itu, Zipmex juga diperintahkan untuk segera mengembalikan aset nasabah sesuai dengan permintaan dan menangguhkan operasionalnya. SEC mendesak pengguna Zipmex untuk melakukan klaim pengembalian ke perusahaan.
Zipmex yang awalnya dilihat sebagai salah satu bursa kripto paling menjanjikan di kawasan ini kini menghadapi tantangan besar untuk memulihkan reputasi dan kepercayaan investor. Kasus ini juga menunjukkan betapa pentingnya regulasi yang kuat dalam menjaga integritas dan stabilitas pasar kripto.
Bagi banyak pihak, operasional Zipmex yang akan berhenti bukan hanya soal kegagalan satu perusahaan tetapi juga refleksi dari tantangan yang lebih luas di industri kripto. Regulasi yang ketat diperlukan untuk melindungi investor tetapi juga harus diimbangi dengan dukungan untuk inovasi dan pertumbuhan industri.

