Perang AS–Israel vs Iran Memasuki Hari Kelima, Gedung Putih: Teheran “Membayar dengan Darah”
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari kelima dan kian meluas ke kawasan. Gedung Putih pada Rabu waktu setempat melontarkan pernyataan paling keras sejak serangan dimulai, dengan menyebut para pemimpin Iran yang “membunuh” kini “membayar kejahatan mereka terhadap Amerika… dengan darah.”
Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, yang menegaskan pemerintahan Presiden Donald Trump mengakhiri “47 tahun” kebijakan yang dinilainya terlalu menoleransi negara yang disebut Washington sebagai sponsor utama terorisme.
Di saat retorika meningkat, situasi militer di lapangan juga bergerak cepat. Israel menyatakan telah melancarkan gelombang serangan terbaru ke Teheran, sementara Menteri Pertahanan Israel berjanji akan “menghancurkan” kemampuan rezim Iran. Dari pihak AS, Pentagon melalui Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengklaim operasi gabungan berjalan “menang secara tegas” dan “lebih banyak kekuatan sedang datang.”
Dalam briefing bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Hegseth bahkan menyebut sebuah kapal perang Iran telah ditenggelamkan oleh torpedo kapal selam AS—yang ia klaim sebagai penenggelaman kapal musuh pertama oleh torpedo sejak Perang Dunia II. Ia juga menyatakan AS dan Israel menargetkan “kendali penuh langit Iran” dalam hitungan hari.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menambahkan bahwa mereka telah menghancurkan 17 kapal Iran dan hampir 2.000 target, sekaligus “melumpuhkan parah” pertahanan udara Teheran. Pada saat yang sama, Iran tetap melanjutkan serangan drone dan rudal ke negara-negara tetangga untuk hari kelima. Negara-negara Teluk berupaya menenangkan pasar dengan menegaskan stok persenjataan mereka masih memadai, menyusul serangkaian laporan mengenai penggunaan intensif sistem pertahanan udara.
Di front politik domestik Iran, laporan media menyebut para ulama senior yang berwenang memilih pemimpin tertinggi berikutnya mempertimbangkan nama Mojtaba Khamenei—putra Ayatollah Ali Khamenei—sebagai kandidat utama. Sementara itu, Teheran menyiapkan upacara duka selama tiga hari untuk Khamenei, yang disebut tewas dalam salvo pembuka serangan AS–Israel. Prosesi pemakaman akan diumumkan kemudian.
Baca Juga
AS Siap Kawal Kapal Tanker di Selat Hormuz, Perang Iran Memasuki Hari Keempat
Salah satu titik paling rawan kini berada di Selat Hormuz—urat nadi energi global. Gedung Putih menolak memberi garis waktu kapan selat tersebut akan kembali aman dilalui tanker. Leavitt mengatakan pemerintah “secara aktif menghitung” langkah-langkah bersama Departemen Perang dan Departemen Energi, dan bila diperlukan Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker minyak.
Lalu lintas tanker di selat itu dilaporkan nyaris berhenti karena pemilik kapal khawatir terhadap situasi keamanan. Selat Hormuz menjadi jalur ekspor sekitar 20% konsumsi minyak dunia; analis Wall Street memperingatkan penutupan berkepanjangan bisa mendorong harga minyak melampaui US$ 100 per barel.
Kekhawatiran itu sudah mulai tecermin pada pasar energi dan logistik. Seorang pejabat menyebut kapal LNG yang semula menuju Eropa berbalik arah ke Asia—contoh pertama pembalikan rute selama lonjakan harga kali ini—di tengah ketatnya pasokan dan persaingan pembeli.
Di sisi kebijakan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pemerintah akan mengumumkan serangkaian langkah untuk menstabilkan pengiriman energi di Teluk, termasuk skema dukungan asuransi risiko politik dan perlindungan bagi jalur pelayaran. Industri asuransi global pun menunggu rincian: besaran kapasitas penjaminan, syarat ketentuan, serta batas (limit) perlindungan yang akan diberikan pemerintah AS.
Perang juga memicu gangguan penerbangan yang masih parah di kawasan. Maskapai seperti Qatar Airways menyatakan operasi penerbangan tetap ditangguhkan sementara karena penutupan wilayah udara. Gedung Putih, di bawah sorotan kritik, membela upaya evakuasi warga AS. Leavitt mengatakan pemerintah membantu warga yang ingin pulang melalui penerbangan komersial terbatas dan penerbangan carter, sementara Menlu Marco Rubio menyebut opsi “penerbangan militer” juga dipertimbangkan. Leavitt mengakui nomor hotline evakuasi yang sempat dibagikan pemerintah tidak berfungsi, namun diklaim sudah diperbarui.
Di luar medan tempur, ketegangan diplomatik ikut membesar. Qatar menyatakan wilayahnya menjadi sasaran serangan Iran dan menolak klaim Teheran bahwa rudal diarahkan ke “kepentingan Amerika,” dengan menegaskan sasaran justru menghantam area sipil, infrastruktur kritis, hingga zona industri termasuk fasilitas LNG—yang dinilai sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional.
Turki juga melaporkan berhasil mencegat proyektil balistik yang diluncurkan dari Iran sebelum memasuki wilayah udaranya. Sementara itu, Bessent menuding pemerintah Spanyol “membahayakan nyawa orang Amerika” karena tidak kooperatif terkait akses pangkalan udara yang digunakan dalam operasi, setelah sebelumnya Trump mengancam memutus hubungan dagang akibat perselisihan tersebut.
Baca Juga
Indonesia Jadi Salah Satu Negara Paling Aman Jika Terjadi Perang Dunia III, Ini Alasannya
Di Washington sendiri, tekanan perang mulai bergeser ke isu kesiapan logistik dan pasokan senjata. Para eksekutif kontraktor pertahanan besar seperti Lockheed Martin dan RTX (induk Raytheon) dijadwalkan bertemu pejabat Gedung Putih untuk membahas percepatan produksi persenjataan, di tengah perdebatan publik mengenai kecukupan stok amunisi pertahanan anti-drone setelah pemakaian intensif. Trump menepis kekhawatiran itu, menyatakan AS memiliki pasokan senjata yang “nyaris tak terbatas.”
Dengan perang yang menyebar, jalur energi yang terancam, penerbangan yang lumpuh, dan retorika yang makin tajam, krisis kini memasuki fase yang bukan hanya menguji kekuatan militer, tetapi juga ketahanan ekonomi global—terutama lewat harga minyak, premi risiko, dan stabilitas rantai pasok lintas benua.
Baca Juga
Bursa Eropa Menguat meski Perang Iran Berlanjut, Stoxx 600 Melonjak 1,4%

