Saatnya Akumulasi, Kekhawatiran Pasar terhadap Saham BRI (BBRI) Berlebihan
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) telah merosot lebih dari 33% dalam dua bulan terakhir. Penurunan ini dipicu atas pandangan berlebihan investor terhadap pelemahan kualitas aset segmen mikro dan usaha kecil BBRI yang bisa berimplikasi negatif terhadap tingkat keuntungannya.
Analis Sucor Sekuritas Edward Lowis mengatakan, kekhawatiran pasar terhadap potensi pemburukan kualitas kredit BBRI dinilai berlebihan hingga membuat harga saham BBRI merosot ke level Rp 4180 akhir pekan lalu. “Kami berpendapat bahwa BBRI memiliki posisi yang baik untuk mengelola risiko kreditnya dan menjaga kinerjanya tetap sehat tahun ini,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan lalu.
Baca Juga
BRI Konsisten di Segmen UMKM & Ultra Mikro, Analis Rekomendasikan Saham BBRI
Lalu, bagaimana kondisi riil kualitas aset BBRI? Berdasarkan hasil diskusi analis Sucor Sekuritas dengan manajemen BBRI terungkap bahwa penurunan NPL segmen usaha kecil telah mencapai puncaknya pada kuartal I-2024. Secara bertahap, perbaikan mulai terlihat.
Estimasi Kinerja Keuangan BBRI
Sumber: Sucor Sekuritas
Hal ini didukung kebijakan BRI untuk menetapkan kebijakan penjaminan yang ketat dalam pencairan kredit usaha kecil melaui komite penjaminan. Kriteria penyaluran segmen mikro juga diperketat. Perseroan juga telah mengubah peran agen untuk membantu koleksi cicilan pinjaman.
“Kami memperkirakan kenaikan biaya kredit BRI hanya meningkat menjadi 3% tahun ini, dibandingkan tahun lalu hanya 2,4%. Sedangkan rata-rata dalam lima tahun terakhir mencapai 2,7%,” tulisnya.
Baca Juga
Perkuat Ekosistem Halal Indonesia, BSI (BRIS) Bidik Rp 1 Triliun dari BSI International Expo 2024
Selain kebijakan lebih ketatat, dia mengatakan, rasio LAR BRI masih kuat mencapai 52% pada kuartal I-2024. Rasio yang kuat tersebut memungkinkan BRI untuk mengelola risiko kredit secara bertanggung jawab dan menjaga kinerja keuangannya tetap baik.
BBRI juga meningkatkan bauran pencairan kredit ke sektor korporasi selama segmen mikro masih melemah. Hal ini terlihat dari peningkatan kredit segmen korporasi dan menengah sepanjang kuartal I-2024. Sedangkan biaya dana juga mulai menunjukkan kestabilan setelah meningkat selama kuartal I.
“Kondisi ini diharapkan hanya membuat penurunan NIM paling besar mencapai 20 bps tahun ini menjadi sekitar 7,8-7,9%. Angka tersebut masih setara dengan rata-rata NIM dalam tiga tahun terakhir,” terangnya.
Baca Juga
Investor Asing Lanjutkan Net Sell Rp 45,27 Miliar, Saham BBRI masih Dilego
Peningkatan biaya dana yang berimbas terhadap penurunan NIM diperkirakan hanya membuat laba bersih perseroan turun ke Rp 57,9 triliun, dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 60,10 triliun. Sedangkan memasuki tahun 2025, laba bersersih perseroan berpotensi pulih dengan peluang penurunan biaya kredit dan asumsi kredit bertumbuh sekitar 10%.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 6.000. “Penurunan dalam saham BBRI dalam dua bulan terakhir menjadi titik menarik bagi investor untuk mulai akumulasi setelah mempertimbangkan fundamental BBRI yang kokoh dan upaya pro aktif manajemen untuk meningkatkan kualitas aset kredit,” terangnya.
Pasar, terang Edward, bereaksi berlebihan terhadap kekhawatiran penurunan kualitas aset kredit BRI. Belum lagi BBRI menawarkan dividend yield tinggi dengan harga saham saat ini merefleksikan dividend yield mencapai 8%.
Grafik Saham BBRI

