Meski 4 Saham Bank Papan Atas Lanjut Rebound, Potensi Cuan masih Besar
JAKARTA, investortrust.id – Empat saham bank papan atas ini kembali melesat pada penutupan perdangan sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang sesi I, Jumat (16/5/2024). Kenaikan tersebut menjadikan rata-rata penguatan harga empat saham bank papan atas tersebut sudah lebih dari 4,38% dalam lima hari terakhir.
Berdasarkan data perdagangan saham sesi I di BEI, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat Rp 225 (2,34%) menjadi Rp 9.825, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik Rp 60 (1,24%) menjadi Rp 4.900, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik Rp 200 (3,15%) menjadi Rp 6.550, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat Rp 50 (0,96%) menjadi Rp 5.250.
Baca Juga
Saham Emiten Prajogo dan Perbankan Menggila, IHSG Sesi I Melesat 1,12%
Dengan torehan tersebut, BBNI tercatat sebagai saham dengan penguatan paling pesat dalam lima hari terakhir mencapai 12,42%. Sisanya BBCA mencapai 4,80%, saham BBRI sebanyak 4,70%, dan BMRI mencapai 4,31%. Sedangkan penguatan paling tinggi terjadi dalam dua hari terakhir.
Prospek Saham Bank
Sumber: CGS International
Lalu, apakah momentum penguatan ini masih berlanjut? CGS International dalam riset terbarunya masih memberikan pandangan positif terhadap saham perbankan dengan rekomendasi overweight. Meski menghadapai tekanan, emiten perbankan dinilai tetap bisa bertumbuh.
CGS merekomendasikan add saham BBCA dengan target harga Rp 10,900, saham BMRI direkomendasikan add dengan target harga Rp 7.100, dan BBNI dengan target Rp 5.700. Saham BBRI juga ditargetkan menuju Rp 6.500 dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRIS) juga dijagokan dengan target harga Rp 2.900.
Baca Juga
Cetak Laba Rp15,98 Triliun I-2024, Mayoritas Analis Rekomendasi Beli Saham BBRI
CGS Sekuritas dalam risetnya menyebutkan bahwa kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF) perbankan cenderung melambat mulai kuartal II tahun ini atau cenderung normal. Hal ini didukung mulai meredanya penarikan dana setelah lebaran, musim pembagian dividen, dan penarikan dana untuk operasional.
Margin bunga bersih (NIM) perbankan juga diperkirakan berangsur-angsur meningkat, seiring rencana hampir seluruh menaikkan bunga kredit sejalan dengan peningkatan biaya dana. “Kami memperkirakan ruang penguatan NIM tetap terbuka, khususnya kredit korporasi. Kenaikan tersebut diindikasi hampir seluruh bank yang ingin mempertahankan NIM atas kredit wholesale ini,” tulis tim riset CGS Sekurirtas dalam risetnya.
Terkait penurunan kaulitas kredit, CGS Sekuritas menyebutkan, kemungkinan berkurang, seiring dengan upaya emiten perbankan untuk mendongkrak pengucuran kredit korporasi dan komersial. Sedangkan kredit segmen mikro yang menjadi pemicu utama peningkatan rasio kredit bermasalah kemungkinan diperketat.
Grafik Saham Bank

