Bukan Saham Perbankan, Ini yang Diserbu Investor Asing di Lantai Bursa
JAKARTA, investortrust.id - Bukan saham perbankan, saham-saham sektor energi di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini menjadi incaran investor asing. Pada perdagangan Rabu (8/5/2024) hari ini, hanya saham sektor energi yang menguat,dengan kenaikan sebesar 0,11%.
Sementara itu, sektor dengan penurunan paling dalam adalah sektor properti yang ambles 1,80%, sektor keuangan terpangkas 0,93%, sektor transportasi menyusut 0,81%, sektor teknologi melemah 0,60%, dan sektor consumer primer turun 0,49%.
Baca Juga
IHSG Ditutup Anjlok 34 Poin, Saham DATA dan SOLA Terbang ARA
Analis Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico menjelaskan, ketidakpastian global yang terjadi saat ini menimbulkan rotasi sektor, sehingga asing menimbang untuk memilih sektor yang memiliki potensi untuk mengalami kenaikan atau bertahan di tengah situasi dan kondisi yang tidak menentu.
“Sampai saat ini, hanya energi yang mengalami kenaikkan, terutama yang berhubungan dengan minyak. Sebab, tensi geopolitik yang terjadi akan memengaruhi harga minyak sehingga mendorong kenaikan,” ujar Nico kepada investortrust.id, Rabu (8/5/2024).
Di sisi lain, analis Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer mengatakan, penguatan saham-saham energi dalam beberapa periode terakhir masih terdorong oleh sentimen kenaikan harga komoditas, seperti minyak mentah, gas alam, dan batu bara.
“Pemicunya antara lain ketegangan di Timur Tengah yang masih terus berlanjut,” kata Miftahul kepada investortrust.id.
Baca Juga
Ada Isu Utang BUMN Karya di Balik Rontoknya Harga Saham Bank-Bank Himbara
Miftahul menuturkan, saham-saham perbankan saat ini masih minim sentiment. “Terlebih harga beberapa saham perbankan yang masih cukup tinggi membuat para pelaku pasar masih cenderung melirik sektor lainya yang lebih menarik,” papar dia.
Maximilianus Nico menjelaskan, pelaku pasar dan investor lebih memilih untuk menghindari asset-aset berisiko, sehingga cenderung wait and see pada perdagangan hari ini. “Bursa di beberapa kawasan Asia juga cenderung mengalami koreksi, seperti Nikkei, Hang Seng, dan Tiongkok,” ucap Nico.

