Bank Mandiri (BMRI) Terdepak dari Lima Besar Market Cap di BEI
JAKARTA, investortrust.id – Dipicu penurunan dalam harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) merosot Rp 600 (8,70%) menjadi Rp 6.300 pada penutupan perdagangan saham sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), (Kamis 2/5/2024), nilai kapitalisasi pasar (market cap) bank ini anjlok.
Pelemahan tersebut menjadikan nilai kapitalisasi pasar sahamnya terjun menjadi Rp 582,11 triliun. Penurunan tersebut menjadikan BMRI menjadi emiten dengan market cap terbesar tujuh di BEI atau disalip PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dengan kapitalisasi pasar Rp 632,49 triliun.
Baca Juga
NIM Turun di Luar Dugaan, Target Keuangan dan Saham Bank Mandiri (BMRI) Dipangkas
Sedangkan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kian perkasa dengan torehan market cap senilai Rp 1.267,62 triliun atau kian jauh meninggalkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di peringkat dua bernilai Rp 1.195,76 triliun.
Lompatan market cap tersebut terjadi setelah saham emiten Prajogo Pangestu (BREN) ini melesat sebanyak Rp 250 (2,71%) menjadi Rp 9.475. Sebaliknya saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merosot Rp 100 (1,02%) menjadi Rp 9.700.
Pergerakan Harga BMRI Sesi I
Terkait prospek saham BMRI, RHB Sekuritas Indonesia dalam riset yang diterbitkan hari ini menyebutkan bahwa penurunan drastis NIM BMRI menjadi faktor utama direvisi turun target harga saham BMRI dari Rp 8.240 menjadi Rp 8.160 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Revisi ini menggambarkan bahwa kinerja keuangan perseroan kuartal I-2024 tidak sesuai dengan harapan setelah NIM turun dalam.
Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya dan David Ching mengatakan, revisi turun target harga tersebut juga mempertimbangkan keputusan manajemen BMRI memangkas target NIM bank pelat merah ini tahun 2024 menjadi 5,0-5,3%, dibandingkan perkiraan semula 5,3-5,5%.
Baca Juga
Lampaui Industri, Kredit Bank Mandiri (BMRI) Tumbuh 19,1% di Kuartal I-2024
RHB Sekuritas juga merevisi turun target kinerja keuangan Bank Mandiri (BMRI) tahun ini. Proyeksi laba bersih direvisi turun dari Rp 58,92 triliun menjadi Rp 57,06 triliun. EPS perseroan juga direvisi turun dari Rp 631 menjadi Rp 611.
Meski demikian sentiment positif terhadap bank ini datang dari pertumbuhan kredit yang kuat mencapai 19% pada kuartal I-2024 didukung peningkatan permintaan kredit segmen korporasi. Sentimen positif lainnya adalah kualitas aset yang tetap terjaga dengan baik hampir saham dengan tahun lalu.

