Melanjutkan Tren Depresiasi, Rupiah Ditutup Rp 16.249/USD Awal Pekan
JAKARTA, investortrust.id - Melanjutkan tren depresiasi, kurs rupiah ditutup melemah 27 poin ke level Rp 16.249/USD awal pekan ini, Senin (29/4/2024), berdasarkan pantauan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Sementara pada penutupan Jumat lalu (26/4/2024), nilai tukar rupiah masih berada di level Rp 16.222/USD.
Dilansir dari analisis PT Laba Forexindo Berjangka, greenback mempertahankan kenaikan yang kuat untuk bulan April 2024, setelah sebagian besar pedagang mengabaikan ekspektasi penurunan suku bunga lebih awal oleh The Fed Amerika Serikat. Pertaruhan ini muncul pada Jumat lalu, setelah data indeks harga Personal Consumption Expenditure (PCE) -- ukuran inflasi pilihan Bank Sentral AS -- lebih tinggi dari perkiraan untuk bulan Maret lalu.
"Fokus minggu ini tertuju pada pertemuan The Fed," kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, Senin (29/4/2024).
Akan Pertahankan Suku Bunga
Bank sentral di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil, dan berpotensi menawarkan pandangan hawkish. Hal ini mengingat masih 'kakunya' inflasi AS baru-baru ini.
Prospek suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama menjadi pertanda buruk bagi pasar Asia. Gagasan ini membuat sebagian besar mata uang regional bergerak pada kisaran yang ketat hari Senin.
Baca Juga
Sebelumnya, data yang dirilis pada hari Kamis lalu menunjukkan bahwa produk domestik bruto AS tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 1,6% periode Januari-Maret. Ini jauh lebih lambat dari perkiraan sebesar 2,4%.
Meski demikian, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa inflasi yang diukur dengan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti naik 3,7% pada kuartal pertama. Angka itu melebihi perkiraan kenaikan 3,4%.
Baca Juga
Yen Jepang Terpuruk hingga 160 per Dolar AS, Terendah sejak 1990
Sebelumnya, data yang dirilis pada hari Kamis lalu menunjukkan bahwa produk domestik bruto AS tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 1,6% periode Januari-Maret. Ini jauh lebih lambat dari perkiraan sebesar 2,4%.
Meski demikian, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa inflasi yang diukur dengan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti naik 3,7% pada kuartal pertama. Angka itu melebihi perkiraan kenaikan 3,4%.

