Pemerintah Kompak Sebut Depresiasi Rupiah Tak Berpengaruh ke Investasi Asing
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah mengatakan depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu tak berpengaruh pada minat asing untuk berinvestasi. Demikian disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
“Ya kalau industri kan semua, long term view. Jadi kalau kejadian-kejadian yang (seperti) fluktuasi (nilai tukar) itu tidak berpengaruh terhadap long term view,” kata Airlangga di kantornya, Jakarta, Senin (29/7/2024).
Airlangga menjelaskan pandangan jangka panjang yang dimaksud menyangkut pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan ketersediaan pekerja terampil.
“Dan juga kawasan-kawasan, serta perizinan,” kata dia.
Baca Juga
Investasi Meningkat, Menko Airlangga Dorong Aliran Dana ke Padat Karya
Dalam kesempatan berbeda, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia juga menyebut depresiasi rupiah tak berpengaruh signifikan terhadap kenaikan investasi asing dan dalam negeri.
“Menyangkut rupiah apa kenaikanitu, karena rupiah saya pikir nggak signifikan lah. Jadi nggak ada pengaruhnya pada kenaikan PMA, PMDN ini,” kata Bahlil.
Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi investasi pada semester-I 2024 tercatat Rp 829,9 triliun atau naik 22,3% secara tahunan. Capaian ini merupakan 50,3% dari target investasi yang diberikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebesar Rp 1.650 triliun.
Dari total realisasi investasi tersebut, PMA yang masuk sebesar Rp 421,7 triliun atau naik 16,1% secara tahunan. Berdasarkan porsinya, PMA yang masuk sebesar 50,8% dari total investasi. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang masuk sebesar Rp 408,2 triliun atau naik 29,4% secara tahunan.
Baca Juga
Lima subsektor investasi PMA mengarah pada industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya yang sebesar US$ 7,1 miliar atau 25,4% dari total investasi. Setelah subsektor industri tersebut, terdapat investasi PMA di sektor pertambangan sebesar US$ 2,3 miliar.
Realisasi investasi di subsektor transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar US$ 2 miliar. Investasi di subsektor kimia dan farmasi sebesar US$ 1,9 miliar dan industri kertas & percetakan sebesar US$ 1,8 miliar.

