Prabowo-Gibran Unggul, Bagaimana Dampaknya bagi Saham Emiten Menara Telekomunikasi?
JAKARTA, investortrust.id – Paslon Capres-Cawapres Nomor Urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mencatatkan keunggulan suara dalam perhitungan cepat (quick count) Pemilu Presiden (Pilpres) 2024 versi sejumlah lembaga survei nasional.
Kemenangan Prabowo-Gibran berdasarkan hasil perhitungan cepat tersebut langsung berimbas terhadap penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan lalu. Kemenangan versi quick count tersebut disebut mengurangi ketidakpastian pasar selama pilpres tahun ini.
Trimegah Sekuritas Indonesia dalam riset yang diterbitkan beberapa waktu lalu menyebutkan penguatan IHSG dalam beberapa hari terakhir selain ditopang efek Pilpres, penggerak pasar saham sepekan ini (19-23 Februari) akan datang dari pengumuman data neraca transaksi berjalan (current account) dan pengumuman Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) soal BI Rate (diprediksi ditunda).
Baca Juga
“Data penting lain yang harus ditunggu adalah survei konsumen dan penjualan ritel karena besarnya dampak pemilu akan membuka peluang adanya kejutan positif,” tulis riset Trimegah.
Lantas, dengan keunggulan sementara pasangan Prabowo-Gibran ini, saham-saham emiten apa saja yang akan terdorong?
Berdasarkan visi misi Paslon 2, dua program yang sering diperbincangkan publik adalah program makan siang dan susu gratis, yang berimbas pada saham-saham sektor konsumen, UMKM, peternakan, dan perikanan.
Sedangkan satu program lainnya yakni digitalisasi yang kerap didengungkan Gibran berkali-kali saat Debat Cawapres 2024 akan berkorelasi dengan saham-saham sektor telekomunikasi (telco) dan jasa pendukungnya, termasuk menara telco.
Penguatan digitalisasi, Prabowo-Gibran berkomitmen akan melakukan penguatan pendidikan, sains dan teknologi, serta digitalisasi yang berhubungan erat dengan teknologi informasi, internet, dan lainnya. Bahkan, Paslon ini akan mengupayakan alokasi dana riset dan inovasi di sektor ini bisa mencapai 1,5-2% dari PDB dalam 5 tahun.
Hal ini diharapkan bisa berimbas positif terhadap emiten sektor menara telco, yaitu meningkatkan penyewaan dan pembangunan menara telekomunikasi di luar Jawa, terutama di daerah yang belum terjangkau sinyal telekomunikasi.
Baca Juga
Sebagai informasi, laporan We Are Social bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia sudah menembus 213 juta orang per Januari 2023, atau setara dengan 77% dari total populasi Indonesia yang mencapai 276,4 juta orang. Jumlah pengguna ini naik 5,44% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 202 juta orang.
Berdasarkan data BEI, sebanyak 10 emiten menara telco yang bisa menjadi perhatian investor, yaitu tiga pemain besar PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel yang disokong BUMN Grup Telkom, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dari grup taipan Djarum, dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) milik Grup Saratoga.
Pilihan teratas
Sementara itu, Riset Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) yang diterbitkan pekan lalu merekomendasikan beli tiga saham emiten menara telco ini sebagai pilihan terbaik bagi investor.
Saham MTEL direkomendasikan beli dengan target harga Rp 920 per saham atau terbuka peluang kenaikan 38% dari harga saat riset saham ini dilakukan. Adapun konsensus target harga saham MTEL level Rp 897 per saham.
Sementara itu, saham TOWR juga disarankan beli dengan target harga Rp 1.310 per saham dan konsensus target harga saham TOWR yakni Rp 1.249/saham.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Masuk Indeks LQ45, Begini Dampaknya terhadap Target Harga
Selanjutnya, saham TBIG direkomendasi hold atau tahan dengan target harga Rp 2.040/saham dan konsensus target harga saham TBIG yakni Rp 2.367 per saham.
Sedangkan tahun lalu, Samuel Sekuritas pernah menyematkan label overweight pada saham emiten menara telco, artinya kenaikan saham sektor ini diprediksi melebihi saham sektor lainnya, karena pertumbuhanya dinilai prospektif dalam beberapa tahun ke depan.
Meski terjadi perlambatan jangka pendek akibat dampak konsolidasi operator telco, Samuel Sekuritas optimistis terhadap prospek jangka panjang sektor emiten menara telco yang didukung hadirnya era 5G dan tingginya permintaan jaringan serat optik (fiber optic).
Riset terbaru analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis juga memberikan kategori overweight untuk saham-saham emiten menara telco. Menurut Niko, selain tipikal bisnis menara yang strategis, pihaknya memperkirakan pendapatan akan tumbuh 6% secara tahunan (year on year) dan laba bersih juga naik 11% yoy.
Niko menjelaskan, katalis saham sektor ini di antaranya terdorong peningkatan pernintaan bisnis fiber optik di Pulau Jawa dan bisnis penyewaan menara (tenant) di luar Jawa, bisnis yang dijaga dengan peluang akuisisi atas aset-aset yang menghasilkan pendapatan saat ini.
Baca Juga
Operator Telko Gencar Ekspansi Luar Jawa, Saham Mitratel (MTEL) Top Picks
“Konsolidasi operator telco yang sedang berlangsung akan meningkatkan skala dan peluang penetrasi telekomunikasi yang lebih dalam di luar Jawa,” tulis Niko dalam riset 8 Januari 2024.
Dengan pertimbangan itu, BRI Danareksa memberikan target harga saham MTEL di level Rp 960 per saham atau 44,36% dari harga penutupan per 16 Februari lalu.

