Harga Minyak Menguat, Inilah Saham-Saham Pilihan Analis Senin Pagi
JAKARTA, investortrust.id – Wall Street berakhir mixed pada Jumat pekan lalu, setelah rilis data harga-harga produsen di Amerika Serikat pada Juli tercatat lebih panas dari perkiraan, yang mendorong imbal hasil obligasi AS lebih tinggi. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Jumat lalu bahwa indeks harga produsen (IHP) -- ukuran inflasi sebelum mencapai konsumen -- naik 0,3% pada Juli secara bulan ke bulan dan 0,8% tahun ke tahun (year on year), dibanding kenaikan yoy 0,2% pada Juni 2023.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 105,25 poin atau sekitar 0,3%, menjadi 35.281,4. Indeks S&P 500 melemah 4,78 poin (0,11%) menjadi 4.464,05, dan indeks komposit Nasdaq turun 76,18 poin (0,56%) menjadi 13.644,85.
Dalam sepekan, indeks Dow Jones naik 0,6%. Sedangkan indeks S&P 500 dan komposit Nasdaq masing-masing turun 0,3% dan 1,9%.
Di Eropa, bursa ditutup lebih rendah pada akhir pekan lalu, mencerna laporan pendapatan emiten dan data inflasi AS terbaru. Sedangkan sebagian besar bursa saham Asia merosot pada perdagangan Jumat pekan lalu (11/08/2023), karena investor merespons rilis data inflasi AS serta ketegangan baru antara AS dengan Tiongkok.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan rekor permintaan global dan pengetatan pasokan mendorong kenaikan harga minyak selama tujuh minggu berturut-turut, rekor terpanjang sejak tahun 2022. IEA memperkirakan permintaan minyak global mencapai rekor 103 juta barel per hari pada Juni 2023 dan dapat mencapai puncak lainnya pada bulan ini.
Untuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah karena tertekan oleh sejumlah faktor global. Kurs rupiah spot melemah sebesar 0,22% menjadi Rp 15.219 per dolar AS pada perdagangan Jumat lalu, dan melemah 0,32% dalam sepekan. Kurs rupiah berdasarkan Jisdor melemah 0,14% ke Rp 15.225 per dolar AS, dan melemah 0,37% selama sepekan.
“Pelaku pasar akan mencermati sejumlah key event di minggu ini, seperti pada Selasa (15/08/2023) akan ada rilis neraca perdagangan Indonesia, produk domestik bruto (PDB) Jepang, Reserve Bank of Australia (RBA) Meeting Minutes, economic sentiment Jerman, penjualan ritel AS, produksi industri Tiongkok, dan tingkat pengangguran AS. Pada Rabu akan ada rilis tingkat inflasi Inggris; pada Kamis FOMC Meeting AS, neraca perdagangan Jepang, dan klain pengangguran AS; dan pada Jumat tingkat inflasi Jepang, dan penjualan ritel Inggris,” papar analisis D’Origin Business Advisory, Senin (14/08/2023).
Rekomendasi BRIDS
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI secara teknikal cenderung konsolidasi, namun masih bertahan di atas support 6.870 dan indikator RSI masih cenderung bergerak sideways. Hari ini, IHSG diperkirakan bergerak menguat terbatas dengan range pergerakan support 6.830-6.870 dan resistance 6.910-6.930.
“Untuk ide perdagangan bisa memperhatikan antara lain saham ENRG (trading buy) dengan trading range Rp 238 – 260. Ini sudah mulai keluar dari tren penurunan jangka panjang, harga bergerak stabil di atas support MA20. Indikator RSI netral cenderung menguat. Hari ini berpotensi menguat dengan TP (target price) terdekat Rp 256-260. SL (stop loss) Rp 244-238,” papar analisis BRIDS, Senin (14/08/2023) pagi.
Saham MEDC, lanjutnya, juga trading buy dengan trading range Rp 1.035 – 1.075. Setelah berhasil keluar dari tren penurunan jangka panjang, saat ini, MEDC dinilai sedang koreksi dan menguji support MA20. Hari ini, saham berpotensi technical rebound dengan TP terdekat Rp 1.065-1.075, dngan SL Rp 1.045-1.035
“Demikian pula saham BTPS trading buy, last price Rp 2.110 – 2.210. Tren masih sideways, namun posisi harga sudah bergerak di atas support MA 60 dan sedang menguji resisten Rp 2.180, didukung dengan indikator RSI yang bergerak menguat. Hari ini, berpotensi melanjutkan kenaikannya dengan TP terdekat Rp 2.190-2.210, SL 2.140-2.110," paparnya.

