Bank Syariah (BRIS) Terlihat Menjanjikan, Berikut Prospek dan Target Harganya
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja keuangan hinggga kuartal III-2023 ditambah sejumlah ambisi ke depan menjadikan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRIS) terlihat menjanjikan.
Hal ini mendorong Sinarmas Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BRIS dengan target harga Rp 2.080 untuk 12 bulan mendatang. Target harga tersebut mempertimbangkan berlanutnya pertumbuha performa keuangan perseroan ke depan.
Baca Juga
Bukan Cuma Profitabilitas, Kualitas Pembiayaan Bank Syariah Indonesia (BRIS) juga Membaik
Anasli Sinarmas Sekuritas Ivan Purnama Putera mengatakan, BRIS telah berhasil mencatatkan lompatan laba bersih senilai Rp 4,2 triliun hingga kuartal III-2023 atau menunjukkan kenaikan sebanyak 31%. Lompatan lab aini didukung peningkatan kualitas aset yang membuat beban provisi turun.
Peningkatan laba juga didukung kuatnya pertumbuhan PPOP dan peningkatan bagi hasil. Sedangkan biaya dana terlihat stabil yang membuat margin keuntungan perseroan mencapai 5,93% hingga akhir September 2023.
Bank juga membidik peningkatan CIR mencapai 35-40% dalam jangka menengah dan panjang, dibandingkan posisi sekarang sekitar 48% atau masih berada di atas industry.
Baca Juga
Bank Syariah Indonesia (BRIS) Gandeng 100 Usaha Fesyen Muslim di JMFW 2024
Terkait ambisi, dia mengatakan, perseroan berencana menjadi pemimpin pasar bank syariah di Indonesia. Saat ini produk dan layanan perseroan memang masih lebih rendah, dibandingkan bank konvensional lainnya. Oleh karena itu, perseroan mulai gencar menawarkan EDC dan QRIS sampai akhir tahun hingga bisa menyamai bank konvensionaln lainnya.
Dengan pertumbuhan produk dan layanan diharapkan pendapatan non-bunga perseroan tumbuh ke depan, dibandingkan hingga akhir September berkisar 15,54%. Perseroan juga berniat meluncurkan super aplikasi untuk meningkatkan fee base income ke depan.
Sinarmas Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 5,84 triliun tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 4,26 triliun. Begitu juga dengan pendapatan bagi hasil diharapkan melesat dari Rp 19,62 triliun menjadi Rp 23,27 triliun.

