Sawit Sumbermas (SSMS) Menjadi Pengendali Citra Borneo (CBUT), Kok Bisa?
JAKARTA, investortrust.id – Pengendali saham PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) berubah dari sebelumnya PT Citra Borneo Indah menjadi PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS). Perubahan pengendali tersebut bagian dari penyelesaian utang degan saham.
Berdasarkan penjelasan manajemen CBUT di Jakarta, Jumat (22/12/2023), pengendali saham berganti dari sebelumnya Citra Borneo Indah (CBI) memegang 54,40% saham CBUT menjadi Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) sebanyak 70,22% saham CBUT.
“Perubahan pemegang saham mayoritas perseroan dari CBI ke SSMS tidak berdampak terhadap kondisi keuangan perseroan. Aksi tersebut menjadikan laporan keuangan CBUT akan dikonsolidasikan dalam laporan keuangan SSMS,” tulis penjelasan tersebut di Jakarta, Jumat (22/12/2023).
Baca Juga
Tebus Jaminan Rp 508,98 Miliar, Citra Borneo Tambah Saham Sawit Sumber Mas (SSMS)
Meskipun terjadi perubahan pengendali CBUT dari CBI kepada SSMS. CBI masih menjadi pengendali terakhir atas seluruh saham tersebut. Sebab, CBI bertindak sebagai pengendali dengan kepemilikan 61,546% saham SSMS.
Sebelumnya, CBI selaku pengendali menambah kepemilikan saham di Sawit Sumbermas (SSMS). Pengendali ini memborong sebanyak 4,73% saham senilai Rp 508,98 miliar.
Investor Relations SSMS Elvin Iswandy mengatakan, CBI membeli sebanyak 450,43 juta saham SSMS senilai Rp 1.130 pada 6 November 2023. Transaksi tersebut setara dengan 4,73% saham.
“Tujuan transaksi tersebut adalah pelepasan jaminan atas pelunasan fasilitas kredit. Dengan demikian total kepemilikan saham Citra Borneo di SSM meningkat menjadi 59,06%,” terangnya.
Baca Juga
Keren! BNI Targetkan Kurangi Emisi Karbon Operasional Lebih Cepat di 2028
Hingga September 2023, perseroan membukukan penurunan pendapatan dari Rp 5,10 triliun menjadi Rp 4,42 triliun. Penurunan tersebut menjadikan laba usaha anjlok dari Rp 2,25 triliun menjadi Rp 785,91 miliar.
Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun drastis dari Rp 1,55 triliun menjadi Rp 513,18 miliar. Hal ini menjadikan laba per saham perseroan turun dari Rp 162,97 menjadi Rp 53,88 per saham.

