Lego 35% Saham, Jasa Marga (JSMR) Sebut Pendapatan Tol Trans Jawa Rp 1,76 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) mencatat pendapatan dari jalan Tol Trans Jawa sebesar Rp 1,76 triliun per semester I-2023. Sementara secara operasional, Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) sebanyak 1,11 juta kendaraan melintas di tol ini di kuartal III-2023.
Jumlah tersebut meningkat 3,12% dibandingkan dengan LHR pada periode yang sama di tahun 2019.
Diketahui, tahun 2020 – 2022 terjadi pandemi Covid-19. Kendati begitu LHR Jalan Tol Trans Jawa masih mengalami kenaikan, tercatat pada tahun 2021 LHR sebesar 982 ribu kendaraan/hari, dengan kenaikan rata-rata tiap tahunnya sebesar 16%.
Tol Trans Jawa mulai dioperasikan secara penuh penghujung tahun 2018 oleh Jasa Marga melalui anak usahanya PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT). Perusahaan ini mengelola 62% dari keseluruhan panjang jalan Tol Trans Jawa, atau sepanjang 676 Km.
Baca Juga
Deal! RUPSLB Sepakati Langkah Restrukturisasi Wijaya Karya (WIKA)
Sebagaimana diketahui, saat ini JSMR tengah melakukan penawaran atas 35% saham JTT kepada sejumlah investor strategis. Kabarnya melalui divestasi ini JSRM bisa menghimpun dana sebesar US$ 750 juta atau sekitar Rp 11,7 triliun. Konsorsium yang dipimpin GIC Pte dan Indonesia Investment Authority (INA) disebut masuk dalam list penawar saham Tol Trans Jawa.
Corporate Communication & Community Development Group Head Jasa Marga Lisye Octaviana menjelaskan, Jasa Marga terus berkontribusi terhadap konektivitas antar wilayah untuk mendukung tercapainya percepatan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Indonesia.
Lisye menyebut Tol Trans Jawa merupakan salah satu contoh kontribusi JSMR, sebab jalan tol ini merupakan tol terpanjang yang terintegrasi dan menghubungkan Merak hingga Probolinggo.
“Jalan Tol Trans Jawa mampu memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi dan sosial Indonesia melalui multiplier effect di berbagai sektor, di antaranya yaitu efisiensi biaya logistik, percepatan konektivitas antar daerah, hingga pengembangan wilayah di sekitar area jalan tol,” ujar Lisye dalam keterangan tertulis, Jumat (13/10/2023).
Sementara itu, Direktur Utama PT JTT Rudi Kurniadi menjelaskan, setelah dilakukannya spin-off (pemisahan) pada 13 Ruas Jalan Tol Trans Jawa dari induk, PT JTT terus berupaya meningkatkan kualitas layanan operasional jalan tol. Tidak hanya mengoptimalkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) jalan tol, PT JTT juga memberikan pelayanan beyond SPM dengan beautifikasi, penghijauan, ketersediaan ruang usaha UMKM, fasilitas disabilitas hingga Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di rest area.
“Hal ini tentu saja berdampak positif pada kinerja PT JTT. Pada Semester I Tahun 2023, pendapatan tol PT JTT mencapai Rp 1,76 triliun. Pendapatan ini juga setara dengan 28,77% dari total pendapatan tol konsolidasi Jasa Marga Group yang menjadikan kami sebagai anak perusahaan penyumbang pendapatan tertinggi di seluruh ruas jalan tol Jasa Marga,” tambahnya.
Baca Juga
Garap Proyek Istana Presiden di IKN, WSBP Sebut Kontrak Baru Tumbuh 212%
Rudi menambahkan, prospek Jalan Tol Trans Jawa dalam jangka panjang masih sangat baik, khususnya potensi traffic yang diproyeksikan akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Di Jawa Barat, ekspansi kawasan industri dan perumahan di sekitar Bekasi, Cikarang dan Karawang hingga pengembangan Pelabuhan Internasional Patimban akan berpotensi meningkatkan traffic.
Sementara itu untuk potensi peningkatan traffic di Jawa Tengah, selain terkoneksi dengan kawasan industri yang terintegrasi di Batang, Kendal dan Kaliwungu, Jalan Tol Trans Jawa juga akan terkoneksi dengan Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulonprogo dan Jalan Tol Yogyakarta-Bawen yang juga dikelola oleh Jasa Marga.
“Sedangkan untuk wilayah Jawa Timur, Jasa Marga akan melanjutkan pembangunan Jalan Tol Ngawi-Kertosono-Kediri Segmen Kertosono-Kediri serta Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi Segmen Probolinggo-Besuki yang menjadi ruas pamungkas yang akan terkoneksi dengan ruas Jalan Tol Trans Jawa yang dikelola oleh PT JTT, sehingga nantinya terhubung dari ujung barat hingga ujung timur pulau Jawa. Tidak hanya itu, tingginya traffic di Jalan Tol Trans Jawa ke depannya juga masih sangat dipengaruhi oleh perjalanan mudik dan liburan masyarakat pada periode Lebaran, Natal dan Tahun Baru serta libur panjang hari besar lainnya,” ujar Rudi.
Potensi pembangunan infrastruktur yang masif, terutama pada Jalan Tol Trans Jawa ini diyakini dapat membuka dan menghubungkan suatu daerah dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dan kawasan ekonomi khusus yang terintegrasi dengan jalan tol secara stimulan dan saling terkoneksi. Ini diharapkan mampu menstimulasi daya saing ekonomi produktif dan nilai tambah antar satu wilayah dengan wilayah lainnya yang terkoneksi dengan Jalan Tol Trans Jawa.

