Dari 21 Saham Listing Perdana di BEI, Ternyata Hanya 7 Berhasil Naik, Sisanya?
JAKARTA, investortrust.id – Dari 21 emiten yang menggelar penawaran umum perdana (IPO) dan listing perdana saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2024 berjalan atau year to date (ytd), hanya tujuh saham yang berhasil cetak penguatan harga.
Sisanya sebanyak 14 emiten justru mencatatkan penurunan harga. Bahkan, harga dua saham pendatang baru ini mentok di level Rp 50 dengan penurunan lebih dari 50%. Rentang penurunan harga tertinggi berada dalam
Saham pendatangan baru dengan penguatan harga tertinggi dicatatkan saham MKAP dengan kenaikan harga 137,78% dari level Rp 115 menjadi Rp 270. Saham yang listing perdana pada 12 Februari ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang layanan eksplorasi migas.
Baca Juga
Kenaikan berikutnya melanda saham NICE dengan penguatan mencapai dari Rp 438 menjadi Rp 860 atau melesat 96,34%. NICE merupakan bergerak di bidang pertambangan bijih nikel melalui kegiatan eksplorasi melalui proyek nikel laterit yang merupakan kontributor utama dalam industri bijih nikel global.
Perusahaan yang listing di BEI pada 9 Januari ini sempat mencapai rekor tertingginya level Rp 1.250 pada 21 Maret 2024. Saham perusahaan ini dicatatkan di papan pengembangan.
Kenaikan harga juga dicatatkan saham MANG dari level Rp 100 menjadi Rp 163 atau menguat 63%. Emiten ini awalnya bergerak di bidang jasa konstruksi dan pengadaan. Kini, emiten ini telah melebarkan sayab ke bidang jasa konstruksi gedung, pembangunan infrastruktur jalan, serta fasiltias produksi aspal hot mix dan beton ready mix.
Penguatan juga melanda saham MEJA dari Rp 103 menjadi Rp 175 atau melesat 69,90%. Saham emiten yang fokus pada tiga segmen bisnis ini, yaitu konsultasi desain, pelaksana kontruksi interior, dan pabrikasi furniture, tersebut menggelar listing pada 12 Februari di BEI.
Baca Juga
Penguatan selanjutnya dicatatkan saham ALII mencapai 38,22% dari Rp 272 menjadi Rp 376. Saham emiten pelayaran pengangkutan batu bara yang masuk dalam grup Bakrie ini sempat mencapai reko penutupan tertinggi Rp 835 pada 26 Februari 2024 setelah listing perdana pada 7 Februari 2024.
Kenaikan selanjutnya dicatatakn saham VISI dari Rp 120 menjadi Rp 193 atau melesat 60,83%. VISI merupakan perusahaan penyedia bahan baku advertising dan printing untuk kegiatan promosi melalui media percetakan digital.
78 Emiten
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya menyebutkan sebanyak 78 perusahaan sudah masuk dalam daftar atau pipeline penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham hingga kini. Total dana yang bakal dibidik mencapai Rp 11,12 triliun.
Jumlah pendaftaran tersebut telah melampaui target Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan target pencatatan 62 saham baru sampai akhir 2024. Sementara secara keseluruhan, OJK menyebut ada 123 penawaran umum dalam pipeline dengan perkiraan nilai indikatif sebesar Rp 59,68 triliun.
Baca Juga
Dear Investor! BEI Akan Libur 6 Hari, Transaksi Saham Dibuka Kembali 16 April
Selain dari IPO saham, sumber penghimpunan dana dalam pipeline dimaksud juga meliputi penawaran umum terbatas (PUT) dengan nilai indikatif Rp 18,47 triliun. Ada pula 9 efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) di dalam pipeline dengan nilai indikatif Rp 8,06 triliun. Terakhir, ada 23 penawaran umum bersama (PUB) EBUS dengan nilai total Rp 22,04 triliun.
Antusiasme penghimpunan dana di pasar modal juga masih terlihat. Tercatat nilai penawaran umum sebesar Rp 48 triliun dengan emiten baru tercatat mencapai 15 saham hingga 28 maret 2024.

