United Bike (UNTD) Gelar Bookbuilding, Bidik Dana IPO Rp 400 Miliar
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan sepeda dan motor listrik, PT Terang Dunia Internusa Tbk (UNTD) atau United Bike melakukan proses initial public offering (IPO) dengan menerbitkan dan menawarkan sebanyak 1,66 miliar lembar saham.
Jumlah saham yang diterbitkan mencerminkan sebesar 25% dari total modal disetor dan ditempatkan penuh Perseroan Pasca IPO. Adapun harga nominal saham Perseroan Rp 25 per saham.
Proses IPO dimulai dengan menggelar penawaran awal saham atau bookbuilding dengan rentang harga Rp 170 - Rp 240. Masa bookbuilding berlangsung pada 11 – 22 Januari 2024.
Berdasarkan prospektus IPO yang disampaikan, Perseroan berharap dapat meraup dana hasil IPO sebesar Rp 400 miliar.
Baca Juga
Saham ACRO dan MANG Listing Perdana, Ada yang Langsung Sentuh ARB
Perseroan menunjuk PT Mirae Asset Sekruitas dan PT BRI Danareksa Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi dari aksi korporasi tersebut. Penjamin Pelaksana Emisi Efek menyampaikan kesanggupan penuh (full commitment) terhadap penawaran umum Perseroan.
Lebih lanjut disebutkan, setelah meraih dana hasil IPO, Manajemen TDI akan mengalokasikan seluruh dana IPO, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, untuk modal kerja untuk melakukan pembelian bahan baku sepeda motor listrik dan E-Moped.
Bahan baku dimaksud antara lain untuk pembelian frame, baterai, dinamo, wheel-set, multi information display (spidometer digital, GPS), brake system, dan suspension.
Sebelum IPO, pemegang saham Perseroan merupakan sejumlah para individu yang mayoritas dimiliki oleh anggota keluarga Mulyadi, terdiri dari Tan Tjoe Ing sebesar 1,5 miliar saham (30%).
Kemudian Stephen Mulyadi sebesar 1,37 miliar saham (27,5%), Andrew Mulyadi sebanyak 1 miliar saham (20%), Henry Mulyadi sebanyak 1 miliar saham (20%) dan Tan Eric Raharjo Prayitno sebanyak 125 juta lembar saham (2,5%).
Baca Juga
Rampung Dibangun, Bendungan Cipanas Telan Dana Rp 2,06 Triliun
Prospek Bisnis
Perseroan optimistis prospek bisnis yang dijalankan cukup menjanjikan, mengacu pada pandangan Frost & Sullivan, di mana permintaan untuk sepeda motor listrik di Indonesia diperkirakan akan meningkat di masa depan.
Frost & Sullivan percaya bahwa pertumbuhan ini kemungkinan besar akan didorong oleh upaya Pemerintah dalam mendorong industri menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Disampaikan, jika hambatan besar dari sisi permintaan, seperti biaya kendaraan listrik yang lebih tinggi dan spesifikasi kendaraan yang tidak memadai dapat diatasi, industri ini memiliki potensi yang signifikan untuk tumbuh. Infrastruktur pengisian daya adalah tantangan lain yang mempengaruhi pertumbuhan industri ini.
Saat ini, pemerintah sedang mengatasi hal ini dengan memperkenalkan lebih banyak stasiun pengisian daya. Selain itu, mengatasi pembatasan dari sisi pasokan, seperti kebutuhan modal yang tinggi untuk produksi kendaraan dan infrastruktur pendukung yang memadai, dianggap kunci untuk mendorong pertumbuhan industri ini dalam periode perkiraan.

