Tren Kinerja Bisnis Membaik, Saham Garuda (GIAA) Akan Terbang?
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) diprediksi membaik seiring kondisi industri penerbangan yang telah pulih pasca pandemi Covid-19. Saat ini kegiatan bisnis industri penerbangan disebut sudah berada di atas 80% dari saat pandemi.
Analis PT Panin Sekuritas Tbk Sarkia Adelia mengatakan GIAA berpotensi mencatatkan peningkatan passenger yield yang didorong oleh seasonality.
Selain itu langkah efisiensi beban operasional dengan fokus pada rute yang profit dan optimalisasi ruang pertumbuhan pada penerbangan internasional, dan penerbangan umrah dan haji merupakan Langkah tepat yang dilakukan GIAA.
Baca Juga
Potensi pertumbuhan juga dipacu dengan optimalisasi dari segmen kargo, kemudian potensi intervensi regulasi pemerintah terkait perubahan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat, serta potensi perbaikan ekuitas, merupakan deretan sentimen yang bisa membuat saham GIAA layak diperhatikan.
Kendati begitu, kondisi keuangan GIAA yang masih rugi serta beban utang dan ekuitas negatif menjadi pemberat bagi saham GIAA. Begitu pula dengan tren kenaikan harga avtur. Untuk itu Sarkia masih merekomendasikan "netral" untuk saham GIAA.
“Meskipun EBITDA perseroan cenderung membaik. Secara valuasi perseroan diperdagangkan discount dengan peers dengan EV/EBITDA di level 4,8 kali untuk periode 12 bulan,’’ ulas Sarkia dalam riset yang dikutip, Selasa (06/02/2024).
Baca Juga
Wall Street Tertekan Yield Obligasi, Dow Jones Merosot Lebih dari 250 Poin
Saat ini harga saham GIAA diperdagangkan di level Rp 68 per saham. Sementara secara consensus saham GIAA ditargetkan berpotensi menguat ke level Rp 330 per saham.
Sebagai catatan, GIAA mencatatkan pendapatan sebesar US$ 837 juta di kuartal III-2023, tumbuh 5,6% secara kuartalan (QoQ) dan 33,6% secata tahunan (YoY), yang membawa pendapatan perseroan menjadi US$ 2.233 miliar per September 2023 atau tumbuh 48,3% YoY.
Patut diketahui juga, posisi EBITDA perseroan saat ini sudah membaik di level US$ 254 juta di kuartal III-2023, bandingan dengan kuartal III-2022 sebesar US$ 148 juta, yang membawa EBITDA perseroan ke level US$ 616 juta atau turun 0,7% YoY per September 2023, yang disebabkan oleh adanya kenaikan biaya operasional.
Meskipun demikian, secara bottom-line perseroan masih tertekan, tercatat rugi sebesar US$ 4 juta di kuartal III-2023. Secara kumulatif rugi bersih perseroan tercatat sebesar US$ 72 juta per September 2023, dimana gap yang besar disebabkan adanya keuntungan dari restrukturisasi di tahun 2022.
Perbaikan kinerja GIAA, kata Sarkia sejalan dengan pemulihan global, di mana passenger traffic domestic telah meningkat membaik ke level 25 juta penumpang di September 2023.
Sarkia memperkirakan tren ini akan berlanjut melebihi capaian di 2022, seiring dengan, pembukaan rute-rute yang sebelumnya ditutup saat pandemic Covid-19, serta momentum seasonality di akhir tahun.
Dari sisi operasional terlihat tingkat keterisian sudah pulih ke level sekitar 80% (2021: 59,8%), serta peningkatan frekuensi penerbangan yang diperkirakan AirNav hingga akhir tahun akan mencapai 1,8 juta jumlah penerbangan (2022: 1,2 juta penerbangan).
“Kami memperkirakan tren ini akan berlanjut di 2024, seiring adanya penambahan bandara, ketersediaan maskapai, antusias masyarakat menggunakan transportasi udara, efisiensi rute dan biaya operasional,’’ imbuhnya.

