Penerbangan Haji Garuda Indonesia (GIAA) Dianggap Gagal, Ini Kata Bos Garuda
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Irfan Setiaputra buka suara soal penilaian dari Kementerian Agama (Kemenag) yang menganggap bahwa Garuda gagal memberikan pelayanan dan kinerja maksimal dalam penerbangan haji.
Menanggapi pernyataan dari Kementerian Agama, Irfan mewakili maskapai menyampaikan permohonan maaf jika pelayanan dari Perseroan dianggap kurang maksimal.
“Soal perfomance ini (kita) sangat memahami dan kita menyampaikan permintaan maaf, dan upaya kita untuk melakukan perbaikan kita sampaikan ke Kemenag penyebabnya,” jelas Irfan usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2023 di Tangerang, Banten, Rabu (22/5/2024).
Irfan membeberkan salah satu penyebab keterlambatan adalah kebakaran pada mesin salah satu armada pengangkut rombongan haji beberapa hari lalu. Sehingga, pihaknya harus mengupayakan perbaikan dan penggantian armada, salah satunya dengan mengalokasikan 2 pesawat berbadan besar untuk seluruh jamaah yang terjadwal terbang ke Tanah Suci.
Baca Juga
Bos Garuda Indonesia Buka Suara Terkait GA-1105 Makassar–Madinah yang Terbakar
Saat ini, pesawat nahas tersebut sedang dalam proses perbaikan dan akan segera beroperasi setelah mendapatkan izin dari otoritas.
Sebelumnya, Kementerian Agama mencatat terdapat sejumlah persoalan pada penerbangan jemaah haji Indonesia yang sudah berlangsung sejak 12 Mei 2024.
Pertama, kerusakan mesin pesawat yang terjadi di Embarkasi Makassar. Sayap kanan pesawat Garuda Indonesia mengeluarkan api pada saat take off penerbangan jemaah kelompok terbang (kloter) lima Embarkasi Makassar UPG-05). Hal ini menyebabkan efek domino pada keterlambatan sejumlah penerbangan.
Kedua, keterlambatan penerbangan. Ontime performance (OTP) Garuda Indonesia juga kurang baik. Kemenag mencatat, persentase keterlambatan keberangkatan pesawat Garuda Indonesia sangat tinggi, mencapai 47,5% atau 38 dari 80 penerbangan mengalami keterlambatan.
Baca Juga
Garuda Indonesia Akan Beri Kompensasi kepada Penumpang Terdampak Insiden
Ketiga, pecah kloter. Perencanaan Garuda Indonesia juga meleset. Pecah kloter yang awalnya diperkirakan hanya akan terjadi satu kali, ternyata terjadi beberapa kali.
Keempat, tas kabin dan kursi roda jemaah tidak terbawa. Peristiwa ini dialami oleh penerbangan jemaah kloter 28 Embarkasi Solo (SOC 28). Ada 11 kursi roda dan 120 koper kabin yang tidak terangkut. (CR-4)

