Minta Maaf ke Jemaah, Bos Garuda (GIAA) Sebut 21% Penerbangan Haji Delay
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) atau GIAA, Irfan Setiaputra menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh jemaah haji atas persoalan yang terjadi dalam pelayanan penerbangan haji tahun 2024/1445 H.
Dia menyebutkan, salah satu permasalahan saat penerbangan haji 2024 ialah banyaknya keterlambatan penerbangan atau delay.
“Kita memohon maaf atas banyaknya delay yang di luar kemampuan kita kepada seluruh jemaah dan pemangku kepentingan. Ini tanggung jawab penuh manajemen, khususnya saya sebagai Direktur Utama. Kita tidak mau beralasan apapun, karena memang faktanya banyak delay,” kata Irfan saat rapat dengan Komisi VI DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (3/7/2024).
Irfan menyampaikan, pada periode penerbangan haji tahun ini, Garuda Indonesia melakukan 292 penerbangan dari 9 embarkasi. Ia menjelaskan, 32% penerbangan tepat waktu, 21% mengalami delay, dan 47% lebih awal dari waktu yang ditentukan.
Baca Juga
Bos Garuda Dukung Penggunaan Avtur Pesawat dari Minyak Jelantah
Dia pun menerangkan ada dua kasus yang menyebabkan mengapa terjadi keterlambatan tersebut, yakni perihal munculnya percikan api di dalam mesin pesawat embarkasi Makassar, yang mana atas kendala tersebut Garuda Indonesia melakukan prosedur return to base (RTB).
“Yang satu lagi adalah problem di Solo. Ada salah satu lessor telat mengirimkan pesawat, dan kita harus menyediakan pesawat sendiri. Terdampak 200 penerbangan reguler,” tambah Irfan.
Bos Garuda Indonesia itu pun memastikan, durasi keterlambatan tidak terlalu lama. “Delay paling lama ke depan ini sekitar 6 jam. Kami harapkan bisa kita turunkan lebih dalam. Operasional haji akan berhenti pada saat 21 Juli ke depan,” ungkap dia.
Baca Juga
Temas (TMAS) Raih Pinjaman Rp 300 Miliar untuk Tambah Kapasitas Angkut
Adapun tingkatan kompensasi keterlambatan maskapai tersebut, di antaranya ketika delay selama 4-6 jam maka penumpang akan mendapatkan snack box dan makanan berat. Selanjutnya, delay lebih dari 6 jam hingga 12 jam, penumpang akan diberikan makanan berat, sarapan, akomodasi dan transportasi.
“Sesuai dengan PKS (perjanjian kerja sama) kami dengan Kementerian Agama bila ada masing-masing delay ini menjadi kewajiban kita utk memastikan kenyamanan para penumpang tersebut bisa kita tangani,” imbuh Irfan.

