Pendapatan Garuda (GIAA) Terbang 48,37%, Rapor Bottom Line Masih Merah
JAKARTA, investortrust.id – Emiten maskapai penerbangan pelat merah, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) harus pasrah kembali menelan kerugian keuangan.
GIAA mencatat rugi bersih komprehensif US$ 75,55 juta atau sekitar 1,15 triliun per kuartal III-2023, padahal pada periode sebelumnya GIAA mencatat laba bersih US$ 3,59 miliar. Posisi bottom line ini menunjukan -102% year on year (yoy).
Perlu diketahui, kinerja GIAA tahun 2022 dipengaruhi oleh pendapatan dari restrukturisasi utang sebesar US$ 2,85 miliar dan juga keuntungan dari restrukturisasi pembayaran US$ 1,33 miliar. Hal ini tidak diperoleh lagi GIAA pada tahun 2023 ini.
Baca Juga
Berdasarkan laporan keuangan per September 2023 yang disampaikan GIAA, Selasa (31/10/2023) terlihat, penurunan laba tidak sejalan dengan perolehan pendapatan usaha yang justru meningkat 48,37% yoy menjadi US$ 2,23 miliar per September 2023 dari US$ 1,50 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perolehan pendapatan terutama dikontribusi dari bisnis penerbangan berjadwal US$ 1,72 miliar per September 2023, meningkat 49,13% yoy dari US$ 1,16 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan pendapatan tidak berjadwal tercatat US$ 274,255 juta, naik dari US$ 162,79 juta.
Perseroan membukukan laba sebelum pajak US$ 103,05 juta dari posisi laba US$ 3,92 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga
Dari sisi neraca tercatat Perseroan membukukan total aset US$ 6,15 miliar per 30 September 2023, turun dari US$ 6,25 miliar pada periode 31 Desember 2023.
Jumlah ekuitas juga mengalami penurunan menjadi US$ 1,61 miliar per 30 September 2023, dibanding US$ 1,53 miliar per 31 Desember 2022.
Sedangkan total liabilitas mengalami kenaikan menjadi US$ 7,76 miliar dibanding periode 6 bulan sebelumnya yang tercatat US$ 7,77 miliar.
Dari hasil tersebut, perseroan mencatat laba per saham turun menjadi US$ 0,00274 dari posisi US$ 0,14294 per saham.

