Saham Telkom (TLKM) Anjlok hingga Diobral Investor Asing Rp 1,75 Triliun, Ada Apa?
JAKARTA, investortrust.id – Pemodalkembali merealisasikan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 870,18 miliar pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (27/3/2024). Sedangkan total net sell saham operator telekomunikasi terbesar di Indonesia ini telah mencapai Rp 1,75 triliun dalam tiga hari terakhir.
Bahkan, dalam tiga hari terakhir TLKM menjadi saham yang paling banyak dilepas pemodal asing. Berdasarkan data BEI, penjualan bersih saham TLKM Senin (25/3/2024) mencapai Rp 360,38 miliar. Kemudian net sell berlanjut menjadi Rp 494,29 miliar pada Selasa (26/3/2024, dan terakhir hari ini net sell TLKM mencapai Rp 896,14 miliar.
Baca Juga
Usai Umumkan Kenaikan Laba, Kira-kira Begini Potensi Dividen Telkom (TLKM)
Selain dilanda net sell besar-besaran oleh pemodal asing, saham TLKM telah turun dalam selama tiga terakhir dari elvel Rp 3.900 menjadi Rp 3.490 atau anjlok sebanyak 10,51%.
Aksi jual saham TLKM mulai terjadi setelah rilis laporan kinerja keuangan yang berada di bawah ekspektasi sejumlah analis, khususnya pendapatan perseroan sepanjang tahun 2023.
Telkom (TLKM) melalui rilis laporan kinerja keuangan mengungkap kenaikan laba bersih sebanyak 18,3% YoY menjadi Rp 24,6 triliun pada akhir 2023. Namun demikian pendapatan konsolidasian hanya tumbuh tipis mencapai 1,3% menjadi Rp 149,2 triliun.
Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi (EBITDA) perseroan tercatat sebesar Rp 77,6 triliun dengan EBITDA margin pada 52,0%. Pencapaian positif ini dikontribusi oleh pertumbuhan bisnis data, internet & IT Service yang tumbuh 6,5% YoY menjadi Rp 87,4 triliun.
Baca Juga
Konsisten Jalankan Transformasi, Telkom (TLKM) Catat Pertumbuhan Laba Bersih 18,3%
Terkait indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI, Rabu (27/3/2024), ditutup anjlok sebanyak 55,57 poin (0,75%) meningkat 7.310,09. IHSG bergerak dalam rentang 7.292,80-7.375,40 dengan nilai transaksi Rp 8,67 triliun.
Penurunan indeks dipengaruhi atas koreksi beberapa sektor saham, seperti saham sektor transportasi 2,48%, sektor teknologi 0,97%, sektor kesehatan 0,93%, sektor properti 0,70%, dan sektor material dasar 0,70%. Sebaliknya penguatan hanya melanda saham sektor keuangan 0,08%.

