Pengendali Tender Offer Saham Tower Bersama (TBIG), Bagaimana dampak Pergerakan Harga?
JAKARTA, investortrust.id – Pemegang saham pengendali PT Tower Bersama Infrastructure Tbk(TBIG), yaitu Bersama Digital Infrastructure Asia PteLtd(BDIA) akan menggelar penawaran tender sukarela (voluntary tender offering) sebanyak 1 miliar saham.
BDIA dalam penjelasan remsinya di Bursa Efek Indonesia (BEI)menyampaikan bahwa tender offerakan dilakukan terhadap 1 miliar saham atau setara dengan 4,42% dari jumlah seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh Tower Bersama (TBIG).
Baca Juga
Obligasi Jatuh Tempo, Tower Bersama (TBIG) Siapkan Dana Rp 1 Triliun
BDIA juga menetapkan harga tender offer sebesar Rp2.300 per saham ini. Harga tersebut menunjukkan premium sebesar 11,45%, dibandingkan harga rata-rata dari harga tertinggi perdagangan harian saham TBIG dalam 90 hari sebelum sejak tanggal 9 Agustus hingga 6 November 2023.
Apabila transaksi ini diselesaikan, maka jumlah saham TBIG yang dapat dimiliki oleh BDIA setelah diselesaikannya penawaran tender sukarela ini adalah sebanyak-banyaknya sebesar 18,06 miliar saham atau 79,82% kepemilikan. Sedangkan periode pelaksanaan tender offer berlangsung pada 14 Desember 2023 hingga 14 Januari 2024.
Lalu, bagaimana dampak aksi tersebut terhadap pergerakan harga saham TBIG? Analis RHB CIMB Sekuritas Genie Purnamasari dan Bob Setiadi mengatakan, pola pergerakan harga saham TBIG selama aksi korporasi tersebut dapat dilihat dari pengalaman sebelumya saat BDIA menggelar tender offer saham TBIG sepanjang 22 Juni-22 Juli 2022.
“Saat itu, harga saham TBIG melesat 12% selama periode tender offer berlangsung. Namun saham TBIG kembali berbalik turun sebesasr 10% sebulan setelah tender offer tersebtu,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan, Rabu (8/11/2023).
Meskipun BDIA menggelar tender offer, CIMB Sekuritas tetap mempetahankan target harga saham TBIG ke level Rp 2.200 dengan rekomendasi dipertahankan hold. Target harga tersebut lebih rendah, dibandingkan harga penawaran tender offer di kisaran Rp 2.300.
Baca Juga
“Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan ROE TBIG diprediksi akan lebih rendah. Target harga tersebut juga telah mencerminkan nilai wajar sekitar 13,1 kali untuk 12 bulan ke depan,” terangnya.
Target harga teresbut juga mempertimbangkan perkiraan penurunan laba bersih perseroan menjadi Rp 1,51 triliun tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 1,63 triliun. Sedangkan pendapatan diprediksi naik dari Rp 6,65 triliun menjadi Rp 6,52 triliun.

