Laba Bersih Tower Bersama (TBIG) 2024 Tergelincir, Harga Saham Ditarget Jadi Segini
JAKARTA, investortrust.id – Laba bersih PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) tergelincir 14,59% (yoy) menjadi Rp 1,36 triliun pada 2024. Padahal, perseroan mencetak pertumbuhan pendapatan 3,3% (yoy) menjadi Rp 6,86 triliun.
Beban pokok pendapatan perseroan ikut naik, yakni 2,04% tahun lalu menjadi Rp 1,94 triliun sehingga menghasilkan laba bruto Rp 4,92 triliun yang masih naik sekitar 4% (yoy).
Dikutip dari laporan keuangan yang telah diaudit untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2024, laba perseroan mulai terpangkas sejak dikurangi beban lain sebesar Rp 222,16 miliar yang naik 265,52% (yoy). Kemudian dikurangi beban keuangan utang bank dan obligasi sebesar Rp 1,87 triliun yang naik 10,3% (yoy).
Baca Juga
Bisnis Infrastruktur Telko Terdorong Fixed Broadband, Bagaimana Target Saham TOWR, MTEL, dan TBIG?
Alhasil, laba sebelum pajak final dan pajak penghasilan perusahaan, turun 10,67% (yoy) menjadi Rp 2,11 triliun.
Manajemen melaporkan, EBITDA perseroan mencatatkan angka Rp 5,86 triliun untuk periode satu tahun yang berakhir pada 31 Desember 2024 dengan margin 85,5%.
Sampai akhir tahun lalu, TBIG memiliki 42.722 penyewaan dan 23.892 site telekomunikasi. Site telekomunikasi milik perseroan terdiri dari 23.778 menara telekomunikasi dan 114 jaringan distributed antenna system (DAS).
Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 42.608, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) perseroan menjadi 1,79.
Baca Juga
Pengusaha Elektronik Khawatir Investor Bakal Kabur dari RI, Jika TKDN Dilonggarkan
“Pada 2024, kami menambahkan 2.333 penyewaan kotor yang terdiri dari 1.551 sites telekomunikasi dan 782 kolokasi ke portofolio kami. Kami terus bekerja sama dengan para pelanggan kami untuk mengoptimalkan jaringan mereka dan memperluas cakupan mereka di seluruh Indonesia,” jelas Direktur Utama Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong dalam pernyataan resminya di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Per 31 Desember 2024, total pinjaman (debt) perseroan sebesar Rp 30,19 triliun, jika pinjaman dalam mata uang US Dollar menggunakan kurs lindung nilai, sedangkan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp 627 miliar.
Dengan saldo kas yang mencapai Rp 1,48 triliun, maka total pinjaman bersih (net debt) perusahaan menjadi Rp 28,71 triliun. Menggunakan EBITDA kuartal IV-2024 yang disetahunkan, maka total pinjaman bersih terhadap EBITDA Tower Bersama setara 4,9x.
Baca Juga
BEI: Fundamental Emiten Kuat Ditopang Kenaikan Laba Agregat 738 Perusahaan Capai 19,32% di 2024
“Kami terus meningkatkan eksposur kami di pasar pinjaman Rupiah dan obligasi Rupiah lokal, yang mencakup setengah dari total utang kami pada akhir 2024,” jelas Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso.
Sedangkan untuk utang dalam mata uang USD, strategi lindung nilai yang perseroan terapkan dengan hati-hati diklaim terbukti sangat efektif, melindungi perseroan dari tekanan yang dihadapi Rupiah belakangan ini.
Meski kinerja keuangan TBIG tak sesuai dengan perkiraan, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli pada saham TBIG dengan target harga Rp 2.500.

