Laba Bersih Tower Bersama (TBIG) Naik Jadi Rp 349,84 Miliar, Manajemen Ungkap Hal Ini
JAKARTA, investortrust.id – Laba bersih PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) sepanjang kuartal I-2024 naik tipis 5,37% menjadi Rp 349,84 miliar. Kenaikan tersebut sejalan dengan penguatan pendapatan dan EBITDA.
TBIG mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan EBITDA masing-masing sebesar menjadi Rp 1,7 triliun dan Rp 1,46 triliun untuk periode tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret 2024.
Baca Juga
Tower Bersama Infrastructure (TBIG) Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp 1 Triliun
“Jika kuartal pertama ini disetahunkan, total pendapatan dan EBITDA perseroan berpotensi mencapai Rp 6,81 triliun dan Rp 5,86 triliun,” jelas Direktur Utama Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong, Kamis (2/5/2024).
Pergerakan Saham TBIG Ytd
Hingga akhir kuartal I-2024, TBIG memiliki sebanyak 41.810 penyewaan dan 22.955 sites telekomunikasi. Sites telekomunikasi milik perseroan terdiri dari 22.838 menara telekomunikasi dan 117 jaringan distributed antenna system (DAS).
Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 41.693, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) perseroan menjadi 1,83x.“Dengan senang hati kami melaporkan kuartal yang kuat lagi untuk pertumbuhan organik, dengan penambahan 837 penyewaan kotor yang terdiri dari 509 sites telekomunikasi dan 328 kolokasi,” sambung Helmy.
Baca Juga
Tuntaskan Tender Offer, Bersama Digital Kini Kendalikan 79,75% Saham Tower Bersama (TBIG)
Menurut dia, kemampuan manajemen terbukti dalam membangun infrastruktur di seluruh kepulauan Indonesia yang beragam. Ini memastikan bahwa perseroan masih jadi mitra utama bagi operator telekomunikasi Indonesia.
Per 31 Maret 2024, total pinjaman (debt) perseroan sebesar Rp 27,73 triliun, jika bagian pinjaman dalam mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya. Kemudian total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp 627 miliar.
Sementara itu, Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso mengatakan, dengan saldo kas yang mencapai Rp 696 miliar, total pinjaman bersih (net debt) perseroan menjadi Rp 27,03 triliun. Menggunakan EBITDA kuartal pertama 2024 yang disetahunkan, rasio pinjaman bersih terhadap EBITDA TBIG menjadi 4,6x.
“Kami terus aktif berpartisipasi di pasar pinjaman Rupiah lokal dan pasar obligasi Rupiah, dengan sebagian besar utang kami dalam denominasi Rupiah Indonesia,” ujar Helmy.
Pada Februari 2024, perseroan menerbitkan Obligasi VI Tahap III senilai Rp 2,7 triliun dengan tenor satu tahun dan tingkat bunga tetap 6,75% selama 370 hari. (CR-10)

