Mantap! AUM Reksa Dana Bakal Melonjak Tiga Kali Lipat Menjadi Rp 1.500 Triliun dalam 5-7 Tahun
JAKARTA, investortrust.id – Dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana Indonesia dalam 5-7 tahun mendatang berpotensi melonjak tiga kali lipat dari saat ini menjadi Rp 1.500 triliun.
“Untuk sekadar meningkat menjadi Rp 1.000 triliun harusnya bisa. Malah kami optimistis AUM industri reksa dana bisa meningkat tiga kali lipat dari saat ini menjadi Rp 1.500 triliun dalam 5-7 tahun ke depan,” ujar Direktur Utama PT Trimegah Asset Management, Antony Dirga dalam diskusi Tantangan Investasi Reksa Dana di Tahun Politik yang digelar investortrust.id di Jakarta, Senin (18/09/2023).
Acara yang dipandu Pemimpin Redaksi Investortrust.id Primus Dorimulu itu juga menghadirkan Direktur Utama PT Sucorinvest Jemmy Paul, Presiden Direktur PT Principal Asset Management Naresh Krishnan,Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto, Chief Investment Officer PT STAR Asset Management Susantio Chandra, Direktur PT Bahama TCW Investment Management Budi Hikmat, dan Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito.
Baca Juga
Menurut Direktur Utama Trimegah Asset Management, Antony Dirga, peningkatan AUM hingga tiga kali lipat menjadi Rp 1.500 triliun dalam 5-7 tahun mendatang bisa dicapai karena ekonomi Indonesia masih terus tumbuh di level 5% per tahun, dengan inflasi yang tetap terjaga dan nilai tukar stabil.
Selain itu, kata Antony, sekitar 10,5 juta investor reksa dana akan meningkat kekayaannya, sehingga mereka bakal menambah investasinya di intrumen tersebut. “Jadi, ini tinggal menunggu waktu saja,” tandas dia.
Baru 5% PDB
Antony menjelaskan, industri reksa dana memiliki potensi yang sangat besar untuk bertumbuh. Saat ini, peran AUM industri reksa dana terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional baru sekitar 5%, jauh lebih rendah dibanding negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand yang sudah 30%.
“Dengan demikian, masih ada ruang yang sangat lebar bagi industri reksa dana untuk tumbuh secara berkelanjutan,” tutur dia.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), AUM industri reksa dana per Agustus 2023 mencapai Rp 516,68 triliun. Pada periode yang sama, nilai efek beragun asset (EBA), kontrak pengelolaan dana (KPD) atau discretionary fund, dan dana investasi real estat (DIRE) masing-masing mencapai Rp 2,06 triliun, Rp 277,53 triliun, dan Rp 10,33 triliun.
Adapun dana investasi infrastruktur (Dinfra)dan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) per Maret 2023 masing-masing berjumlah Rp 7,84 triliun dan Rp 26,19 triliun.
Baca Juga
Bahana TCW dan Manulife Aset bersaing Ketat, Berikut Daftar Top 20 Dana Kelolaan MI
Di Indonesia saat ini terdapat 95 MI aktif yang mengelola hampir 4.000 produk reksa dana. Jenis reksa dana bermacam-macam, dari mulai reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, exchanged trade fund (ETF), reksa dana campuran, reksa dana pasar uang, global fund, reksa dana terproteksi, reksa dana indeks, hingga reksa dana berbasis sukuk.
Dari Rp 512,70 triliun AUM industri reksa dana per 31 Januari 2023, reksana pendapatan tetap menempati porsi terbesar (27,96%), diikuti reksa dana saham (21,58%), reksa dana terproteksi (19,54%), pasar uang (17,29%), reksa dana campuran (4,52%), ETF (2,80%), global fund (2,71%), reksa dana indeks (2,61%), dan reksa dana berbasis sukuk (1%).

