AUM Reksa Dana Bakal Melonjak Tiga Kali Lipat, Target OJK Lewat!
JAKARTA, investortrust.id – Presiden Direktur PT Trimegah Asset Management, Antony Dirga optimistis dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana melonjak tiga kali lipat menjadi Rp 1.500 triliun dalam 5-7 tahun mendatang dibanding saat ini sekitar Rp 516,68 triliun. Alhasil, target AUM yang dipatok Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar Rp 1.000 triliun pada 2027 bakal lewat alias terlampaui.
“AUM Rp 1.000 triliun pada 2027 yang ditargetkan OJK bisa dengan mudah tercapai atau terlewati. Bahkan, AUM bisa tumbuh tiga kali lipat dalam tempo 5-7 tahun dari saat ini,” kata Antony Dirga dalam diskusi Tantangan Investasi Reksa Dana di Tahun Politik yang digelar investortrust.id di Jakarta, Senin (18/09/2023).
Acara yang dipandu Pemimpin Redaksi Investortrust.id Primus Dorimulu itu juga menghadirkan Direktur Utama PT Sucorinvest Jemmy Paul, Presiden Direktur PT Principal Asset Management Naresh Krishnan, Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto, Chief Investment Officer PT STAR Asset Management Susantio Chandra, Direktur PT Bahama TCW Investment Management Budi Hikmat, dan Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito.
Baca Juga
Antony Dirga mengungkapkan, peningkatan AUM hingga tiga kali lipat menjadi Rp 1.500 triliun dalam 5-7 tahun mendatang bisa dicapai karena ekonomi Indonesia masih terus tumbuh rata-rata 5% per tahun, dengan inflasi yang tetap terjaga dan nilai tukar stabil.
Selain itu, menurut Antony, kekayaan sekitar 10,5 juta investor reksa dana akan meningkat, sehingga mereka bakal menambah investasinya di intrumen tersebut. Apalagi peran AUM industri reksa dana terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih sangat rendah, baru sekitar 5%. Padahal di Malaysia dan Thailand sudah 30%.
“Sekarang AUM kita US$ 55 billion atau 5% terhadap PDB. Kalau kita asumsikan peran AUM terhadap PDB naik ke 7,5%, harusnya dalam 5-7 tahun bisa naik tiga kali lipat menjadi US$ 150 billion. Kalau hanya Rp 1.000 triliun sih saya rasa sangat memungkinkan. Jadi, untuk mencapai target tinggal menunggu waktu saja,” tegas dia.
Antony mencontohkan, di Indonesia, AUM Rp 500 triliun merupakan dana kelolaan hampir 100 manajer investasi (MI). Padahal, di negara-negara lain, terutama negara-negara maju, AUM sebesar itu hanya ditangani satu perusahaan atau satu MI saja.
“Di luar negeri, US$ 55 billion itu untuk satu MI saja. Di sini, 95 player MI harus sharing bersama. Sangat-sangat berat sebenarnya. Semoga ke depan persaingan industri kita semakin baik,” tutur dia.
Baca Juga
Bahana TCW dan Manulife Aset bersaing Ketat, Berikut Daftar Top 20 Dana Kelolaan MI
AUM Rp 516,68 Triliun
Berdasarkan data OJK, AUM industri reksa dana per Agustus 2023 mencapai Rp 516,68 triliun. Pada periode yang sama, nilai efek beragun aset (EBA), kontrak pengelolaan dana (KPD) atau discretionary fund, dan dana investasi real estat (DIRE) masing-masing mencapai Rp 2,06 triliun, Rp 277,53 triliun, dan Rp 10,33 triliun.
Adapun dana investasi infrastruktur (Dinfra) dan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) per Maret 2023 masing-masing berjumlah Rp 7,84 triliun dan Rp 26,19 triliun.
Baca Juga
Ini Penyebab Kinerja Reksa Dana Saham Relatif Stagnan 7 Tahun Terakhir
Di Indonesia saat ini terdapat 95 MI aktif yang mengelola hampir 4.000 produk reksa dana, dari mulai reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, exchanged trade fund (ETF), reksa dana campuran, reksa dana pasar uang, global fund, reksa dana terproteksi, reksa dana indeks, hingga reksa dana berbasis sukuk.
Dari Rp 512,70 triliun AUM industri reksa dana per 31 Januari 2023, menurut data OJK, reksana pendapatan tetap menempati porsi terbesar (27,96%), diikuti reksa dana saham (21,58%), reksa dana terproteksi (19,54%), pasar uang (17,29%), reksa dana campuran (4,52%), ETF (2,80%), global fund (2,71%), reksa dana indeks (2,61%), dan reksa dana berbasis sukuk (1%). (CR-1)

