BEI Pantau Terus Pergerakan Saham Barito Renewables (BREN)
JAKARTA, investortrust.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa pihaknya terus memantau pergerakan harga saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang sudah terdongkrak 704,48% sejak penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.
Hingga penutupan perdagangan Selasa (21/11/2023), harga saham BREN masih bertengger di level Rp 6.275. Padahal saat IPO, saham ini dijual seharga Rp 780 per saham.
“Pergerakan saham BREN, kami pantau terus dan sejauh ini sudah dilakukan tindakan pengawasan UMA (unusual market activity) dan suspensi cooling down 2 sesi,” jelas Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Kristian Sihar Manullang kepada wartawan, Selasa (21/11/2023).
Baca Juga
Asing Lanjut Net Sell, Saham BBCA, BREN, hingga GOTO Dilepas
Dia juga menegaskan, tindakan pengawasan selanjutnya akan dilakukan apabila dari hasil pemantauan bursa diperlukan tindakan tersebut. Sebagai informasi, harga saham BREN dalam perdagangan Selasa ini terkoreksi 7,72% atau turun Rp 525 dari harga pada Senin (20/11/2023), meski harga saham sudah meroket jauh setelah IPO.
Dengan begitu, kapitalisasi pasar BREN ditutup pada nilai Rp 839,51 triliun hari ini. Bila dihitung dari harga saham dan laba per saham dasar, price to earnings ratio (PER) BREN saat ini mencapai 664,02 kali. Sehingga dikategorikan sangat mahal karena jauh melampaui PER rata-rata saham di industri yang sama.
Sejumlah pemodal menilai, pergerakan harga BREN perlu diawasi akibat kenaikan signifikan dalam waktu singkat. Seorang sumber investortrust.id bahkan menyebut kemungkinan adanya permainan ‘bandar’, yang berperan mendongkrak harga saham perusahaan Prajogo Pangestu tersebut.
Baca Juga
Koreksi Dalam Saham BRPT dan BREN, Nilai Kekayaan Prajogo Pangestu Terpangkas
Namun pada saat yang sama, sumber tersebut mengakui bahwa banyak pemodal percaya pada kinerja perusahaan-perusahaan Prajogo Pangestu. Selain karena ada PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang menjadi produsen petrokimia terbesar di Asia Tenggara, Barito Renewables juga digadang-gadang sebagai pemilik aset panas bumi terbesar di Indonesia.
Sampai September 2023, Barito Renewable tercatat membukukan kenaikan laba bersih 9% (yoy) menjadi US$ 82,6 juta. Pertumbuhan laba bersih ini sejalan dengan peningkatan pendapatan 5,13% (yoy) menjadi US$ 445,27 juta pada perbandingan periode serupa.
Hingga kuartal III-2023, Barito Renewables juga mencatatkan kenaikan total aset dari US$ 3,39 miliar menjadi US$ 3,48 miliar. Namun total liabilitas perusahaan juga naik dari US$ 2,95 miliar menjadi US$ 3,02 miliar. (CR-10)

