Dua Komisaris Vale (INCO) Mundur di Tengah Proses Divestasi Saham
JAKARTA, investortrust.id - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengumumkan, dua orang komisaris Perseroan telah mengajukan pengunduran diri. Keduanya adalah Deshnee Naidoo dan Gustavo Garavaglia.
Pengunduran diri dua komisaris tersebut terjadi di tengah proses divestasi saham Vale kepada Pemerintah RI.
Berdasarkan keterangan resmi Senin (12/2/2024), Perseroan telah menerima surat permohonan pengunduran diri Deshnee Naidoo sebagai Presiden Komisaris dan Gustavo Garavaglia sebagai Komisaris Perseroan.
Baca Juga
Pengumuman! Produksi Nikel Vale Indonesia (INCO) Naik 18% di 2023
"Surat pengunduran diri tersebut diajukan pada 9 Februari 2024," tulis Corporate Secretary INCO, Filia Alanda.
Dengan demikian, sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik, perusahaan akan mengadakan rapat umum pemegang saham (RUPS) paling lambat 90 hari setelah diterimanya pengunduran diri tersebut.
Selain itu, Filia memastikan pengunduran diri tersebut tidak berdampak terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perusahaan.
Adapun terkait perkembangan divestasi saham, belum lama ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan kesepakatan mengenai divestasi 14% saham INCO kepada MIND ID, sehingga kepemilikan MIND ID di INCO menjadi 34%.
Baca Juga
Chandra Asri (TPIA) Akan Terbitkan Obligasi Senilai Rp 1,5 Triliun
Terkait kinerja, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) baru saja mengumumkan kinerja audited tahun buku 2023 dengan meraih laba bersih periode berjalan sebesar US$ 274,33 juta, tumbuh 36,89% year on year (yoy) dari US$ 200,40 juta di tahun 2022.
Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan Perseroan melalui laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (11/02/2024), Vale mencatat perolehan pendapatan bersih tahun buku 2023 sebesar sebesar US$ 1,23 miliar, naik 4,94% yoy dari US$ 1,18 miliar di tahun 2022.
Sementara EBITDA tercatat sebesar US$ 499,60 juta, meningkat dari US$ 476,96 juta dengan laba bersih per saham tercatat US$ 0,0276 di tahun 2023 dari sebesar US$ 0,0202 tahun 2022.
Dari pos neraca tercatat kenaikan asset sebesar 10,04% yoy menjadi US$ 2,92 miliar dari sebesar US$ 2,66 miliar di tahun 2022. Jumlah liabilitas tercatat naik menjadi US$ 361,46 miliar dari posisi US$ 303,34 miliar di per 31 Desember 2022.
Sedangkan ekuitas mengalami kenaikan menjadi US$ 2,56 miliar per 31 Desember 2023 dari US$ 2,35 miliar di 31 Desember 2022.
Kemampuan Perseroan mendorong profitabilitas tampak pada peningkatan posisi return on asset (ROA) yang tercatat sebesar 9,38% di tahun 2023 dari tahun 2022 sebesar 7,54%. Begitu pula dengan return on equity yang tercatat naik menjadi 10,70% dari angka 8,51% di tahun 2022.

