Pemilu Jadi Faktor Penentu Pasar Saham 2024
JAKARTA, investortrust.id - Penyelenggaraan Pemilu 2024 akan menjadi salah satu faktor yang menentukan perkembangan ekonomi dan pasar modal domestik tahun depan. Jika pemilu berjalan lancar sesuai ekspektasi, ekonomi akan terdongkrak. Saham-saham emiten yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pemilu pun akan terimbas sentimen positif.
Direktur Utama PT UBS Sekuritas Indonesia, Joshua Arief Tanja mengungkapkan, kegiatan pemilu akan mendongkrak konsumsi masyarakat pada kuartal IV-2023 dan kuartal I-2024 masing-masing sebesar 0,5%. Hal itu bisa berdampak pada saham emiten yang terkait langsung dengan kegiatan pemilu.
Baca Juga
BI Sebut Pemilu dan Kenaikan Gaji ASN Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI 2024
“Dampak pemilu ini menarik, budget logistik pemilu sekitar Rp 170 triliun atau 0,8% terhadap produk domestik bruto (PDB). Itu akan di-spend mulai kuartal IV tahun ini, sampai kuartal II tahun depan,“ ujar Direktur Utama PT UBS Sekuritas Indonesia, Joshua Arief Tanja dalam seminar Capital Market Summit & Expo (CSME) 2023 di Main Hall BEI, Jakarta, Kamis (26/10/2023).
Menurut Joshua Arief Tanja, setelah pemilu presiden (pilpres) dan pemilu legislatif (pileg) usai, kegiatan ekonomi akan kembali ke fase normal. “Misal pertumbuhan ekonomi kita naik dari 5% menjadi 5,5% pada kuartal I-2024, pada kuartal berikutnya akan balik lagi normal," tutur dia.
Tak hanya konsumsi masyarakat, kata Joshua, konsumsi pemerintah setelah pemilu akan turun lagi. "Jadi, ada faktor dirugikan dan diuntungkan pada beberapa sektor,” tandas dia.
Baca Juga
Asosiasi Analis Optimistis Pemilu Hadirkan Sentimen Positif ke IHSG
Joshua mengakui, konsumsi domestik yang meningkat selama pemilu akan turut memengaruhi pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham-saham yang berkaitan dengan kegiatan pemilu, seperti sektor konsumsi, media, transportasi, telekomunikasi, dan perbankan akan relatif lebih diuntungkan.
Dia menjelaskan, saat ini pasar modal Indonesia lebih banyak dipengaruhi kegiatan hilirisasi pertambangan, khususnya nikel, konsumsi masyarakat dan pemerintah, belanja modal (capital expenditure/capex) pemilu, dan penyelenggaraan pemilu.
Joshua mencontohkan, surplus neraca perdagangan mencapai 2,2% PDB. Itu pula yang menyebabkan neraca transaksi berjalan (current account) mencatatkan positif.
Sentimen positif yang berasal dari pemilu di dalam negeri, menurut Joshua, diharapkan mampu mereduksi sentimen negatif di pasar global, seperti sikap hawkish The Fed, ancaman stagflasi di Uni Eropa, perang Rusia-Ukraina, serta perang Hammas-Israel.(CR-5)

