Bos Mazda: Faktor Emosi dan Rasionalitas Jadi Penentu Pasar Mobil Indonesia pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, agen pemegang merek (APM) dan distributor Mazda di Indonesia, Ricky Thio menilai, keputusan membeli mobil kini semakin berlapis. Hal ini berkaca pada dinamika pasar otomotif nasional yang makin kompleks.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) kuartal III-2025 serta analisis PwC Indonesia menunjukkan terjadinya pergeseran permintaan. Sejumlah segmen mengalami perlambatan, sementara segmen lain relatif bertahan, mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat.
“Di Indonesia, sebagian besar orang masih menganggap mobil sebagai means of mobility, elemen penting dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, banyak orang juga melihat mobil sebagai cara untuk enrich the quality of life, sejalan dengan pemikiran Mazda bahwa the joy of driving may create the joy of living,” jelas Ricky dalam keterangan resmi, Selasa (16/12/2025).
Baca Juga
Mazda CX-60 Limited with AutoExe Dibandrol dengan Harga Khusus di GIIAS 2024
Menurut Ricky, perubahan tersebut menegaskan dua faktor utama yang kini berjalan beriringan, yakni kebutuhan rasional dan aspirasi emosional. Ia menyebut konsumen semakin berhitung soal biaya, tetapi tetap mencari nilai lebih dari sisi desain dan pengalaman berkendara.
Di tengah kompetisi yang semakin sehat pada kuartal III-2025, Mazda mampu menjaga performa relatif stabil. Ricky menyebut market share Mazda hanya terkoreksi 0,12% pada Oktober 2025, lebih rendah dibanding sejumlah merek Jepang lain yang terkoreksi hingga 2–3%.
Pada level ritel, beberapa merek premium mengalami kontraksi 39-44%. Sementara Mazda mencatat penurunan sekitar 29%, ditopang kinerja Mazda CX-5, CX-3, dan Mazda 3 Hatchback yang dikenal dengan desain dan karakter berkendara khas. “Emotional appeal adalah kekuatan kami. Konsumen membeli bukan hanya karena logika, tetapi cinta terhadap desain dan kualitas produk Mazda,” jelas Ricky.
Dari sisi rasional, Ricky menyebut konsumen kini semakin memperhatikan total ownership cost (TOC). Perhitungan ini mencakup biaya perawatan, layanan purnajual, administrasi, hingga nilai jual kembali kendaraan. Namun, TOC tidak berdiri sendiri. Faktor eksternal, seperti regulasi, dinamika industri, dan kesiapan infrastruktur juga memengaruhi keputusan pasar.
Baca Juga
Toyota Gandeng Subaru dan Mazda Ciptakan Mesin Ramah Lingkungan
“Indonesia adalah salah satu pasar otomotif yang sangat value competitive. Dengan banyaknya value proposition dari berbagai APM, konsumen perlu mampu menggabungkan faktor rasional seperti TOC, dengan kebutuhan personal mereka,” jelasnya.
Memasuki 2026, Mazda memproyeksikan pemulihan pasar yang bertahap, dengan peluang akselerasi pada semester kedua. Untuk menjaga relevansi, merek otomotif asal Jepang itu akan memperkuat segmentasi pasar, meluncurkan sejumlah model baru yang mayoritas SUV, serta berinvestasi pada penguatan ekosistem penjualan dan layanan.

