Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat, Bagaimana Pekan Depan?
JAKARTA, investortrust.id - Menutup perdagangan akhir pekan, nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank, Jakarta, Jumat (17/11/2023), menguat 62 poin ke level Rp 15.492 per dolar AS dibanding hari sebelumnya Rp 15.554.
Pada perdagangan awal pekan depan (Senin, 20/11/2023), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat pada rentang Rp 15.460-15.540 per dolar AS.
Menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaib, sentimen yang akan mewarnai perdagangan rupiah pekan depan antara lain kondisi Indonesia menjelang Pemilu 2024.
Dia mengakui, banyak keraguan menyelimuti investor akibat potensi ketidakstabilan yang ditimbulkan gejolak politik di dalam negeri. Meski demikian, investor, khususnya asing, tetap menaruh kepercayaan yang tinggi kepada Indonesia.
Baca Juga
Ekonom: Surplus Neraca Perdagangan Berlanjut akan Perkuat Rupiah
“Perekonomian Indonesia tidak akan terhambat karena adanya Pemilu 2024. Sebaliknya, Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk melakukan investasi,” ujar Ibrahim Assuaib dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (17/11/2023).
Tingginya kepercayaan investor asing, kata Ibrahim, ditunjukkan oleh masih kuatnya aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang masuk ke Indonesia. "Investor sudah memperhitungkan untung-rugi dari pilihan mereka," tutur dia.
Data Kementerian Investasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan, realisasi investasi langsung atau penanaman modal pada kuartal II-2023 mencapai Rp 349,8 triliun, naik 15,7% secara tahunan (yoy) dan meningkat 6,3% secara kuartalan (qtq).
Keunggulan Indonesia
Ibrahim Assuaib juga menilai Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) yang terdiri atas Kementerian Keuangan (pemerintah), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sudah menjalankan fungsinya secara baik.
Bahkan, menurut dia, Kemenkeu bersama BI, OJK, dan LPS mampu membawa ekonomi Indonesia pulih lebih cepat pascapandemi Covid-19. KSSK juga mampu mengawal perekonomian nasional di tengah gejolak ekonomi global.
Baca Juga
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang melambat menjadi 4,94 % (yoy) pada kuartal III-2023, meleset dari prediksi 5%. Namun, hal ini tidak menutup fakta bahwa Indonesia adalah pasar yang potensial,” tegas Ibra.
Hal itu, kata Ibra, tak lepas dari keunggulan Indonesia yang memiliki populasi besar, demografi muda, serta pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang konsisten di level 5% setiap tahun.
Ibra menambahkan, Indonesia juga merupakan salah satu produsen nikel, logam, pertambangan, dan minyak. Sumber daya migas Indonesia bahkan salah satu yang terbesar di dunia. “Jadi, kami sangat sangat optimistis dengan pertumbuhan ekonomi tersebut,” tandas dia. (CR-10)

