IHSG Menguat Hingga 5,7% Pekan Ini, Bagaimana Pekan Depan?
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan penguatan signifikan di pekan ini sevesar 5,77% ke posisi 6.636. Hal ini memberikan harapan bagi pelaku pasar bahwa tren bearish yang menghantui sejak pertengahan September 2024 mulai mereda.
Namun, apakah penguatan ini cukup untuk memastikan bahwa IHSG telah keluar dari tekanan jual dan volatilitas tinggi?
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai secara teknikal, indeks berhasil breakout dari MA20 di level 6.628, yang menjadi indikasi positif bahwa IHSG berpotensi menguji kembali level psikologis 6.700 dalam waktu dekat.
“Meskipun penguatan terjadi, investor asing masih mencatatkan net sell di pasar, menunjukkan bahwa kepercayaan mereka terhadap prospek pasar Indonesia belum sepenuhnya pulih. Bisa jadi, mereka masih menunggu momentum yang lebih kuat sebelum kembali melakukan aksi akumulasi secara agresif,” kata Hendra kepada investortrust.id Minggu, (9/3/2025).
Baca Juga
Pekan Terbaik BEI, IHSG Melesat 5,83% hingga Net Sell Saham mulai Mereda
Hendra menjabarkan beberapa sentimen utama akan memengaruhi pergerakan IHSG pekan depan. Dari sisi domestik, sentimen positif datang dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan investor global Ray Dalio dan sejumlah konglomerat nasional terkait pembentukan Sovereign Wealth Fund (SWF) Danantara.
“Kehadiran Dalio yang merupakan pendiri Bridgewater Associates memberikan sinyal bahwa pemerintah Indonesia semakin serius dalam menarik investasi jangka panjang yang lebih berkualitas,” terangnya.
Hal ini, menurutnya tercermin dari lonjakan saham yang terkait dengan konglomerat yang hadir dalam pertemuan tersebut, PT Barito Renewables Tbk (BREN) milik Prajogo Pangestu menguat 2,37%, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melonjak 14,04%, sementara saham Grup Sinar Mas seperti PT Indah Kiat Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk masing-masing naik 6,93% dan 6,50%.
“Pertemuan strategis ini semakin memperkuat optimisme bahwa pasar modal Indonesia akan mendapatkan aliran dana yang lebih besar ke depan, terutama di sektor energi terbarukan, infrastruktur, dan manufaktur,” bebernya
Sementara di sisi global, Hendra melihat tantangan datang dari meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China. China baru saja mengumumkan tarif balasan sebesar 10–15% terhadap impor AS, menambah eskalasi perang dagang yang sudah berlangsung lama. Selain itu, Presiden AS Donald Trump juga memberlakukan tarif impor 25% untuk Kanada dan Meksiko, yang dapat berimbas pada ketidakstabilan ekonomi global dan arus investasi ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Ketidakpastian ini bisa menjadi faktor yang membatasi penguatan IHSG dalam waktu dekat, terutama jika sentimen global lebih dominan dibandingkan katalis positif dari dalam negeri,” jelasnya.
Selain itu, menurut Hendra rilis laporan keuangan emiten yang semakin banyak akan menjadi faktor penting yang menentukan arah IHSG.
“Investor akan mencermati kinerja keuangan perusahaan-perusahaan besar untuk menilai apakah valuasi saham saat ini masih menarik atau sudah terlalu tinggi. Saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan prospek cerah berpotensi menjadi pilihan utama bagi investor,” imbuhnya.
Dalam jangka pendek, Hendra menyebutkan beberapa saham yang menarik untuk dicermati adalah SCMA buy dengan target harga Rp 250, MYOR buy dengan target Rp 2.550, LSIP buy dengan target Rp 1.200, dan GOTO buy dengan target Rp 91.
“Dengan kombinasi sentimen positif dari domestik dan tantangan dari global, IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan, namun tetap dengan volatilitas yang tinggi. Investor disarankan untuk tetap selektif dalam memilih saham dan memanfaatkan momentum dengan strategi yang tepat,” tuturnya.

