Timah (TINS) akan Balikkan Rugi Jadi Laba, Manajemen Ungkap Strategi Ini
JAKARTA, investortrust.id – Emiten plat merah PT Timah Tbk (TINS) akan menerapkan strategi efisiensi operasional guna membalikkan rugi menjadi laba tahun 2024. Lompatan laba juga diharapkan datang dari kenaikan harga komoditas timah di pasar global.
Direktur Utama Timah (TINS) Ahmad Dani Virsal menyatakan, perseroan akan meningkatkan kinerja operasional bersamaan dengan efisiensi tahun 2024. Perseroan membidik kenaikan produksi timah menjadi 30.000 ton, dibandingkan realisasi tahun lalu mencapai 14.885 ton.
Baca Juga
Dengan peningkatan produksi tersebut, dia mengatakan, pendapatan bertumbuh dan bisa kembali mencetak laba bersih. “Concern kita adalah produksi dan efisiensi yang bisa dikontrol, sehingga diharapkan cost turun dan margin naik,” papar Ahmad di Jakarta kemarin.
Tahun lalu, perseroan memproduksi sekitar 14.000 - 15.000 ton timah dengan rata-rata harga jual US$ 26 ribu per ton. Sedangkan target harga jual tahun ini diharapkan bertumbuh, seiring dengan tingginya permintaan global.
Manajemen Timah optimistis proyeksi peningkatan produksi tersebut sejalan dengan berlanjutnya pertumbuhan permintaan timah global. Komoditas ini sangat dibutuhkan sebagai bahan baku produksi alat elektronik.
Baca Juga
Suami Sandra Dewi, Harvey Moeis Jadi Tersangka Kasus Korupsi Timah
Timah yang diproduksi perseroan nantinya 95% akan diekspor ke negara Asia (50%), seperti Jepang, Taiwan, China, dan Korea. Sisanya dijual ke negara-negara Eropa serta Amerika Serikat.
Terkait investasi tahun ini, dia mengatakan, Timah (TINS) menganggarkan belanja modal atau capital expenditure sebesar Rp 700 miliar. Dana digunakan untuk perbaikan dan pengembangan alat-alat kerja. Pendanaan berasal dari keuangan internal.
Tahun lalu, produksi bijih timah TINS merosot 26% yoy menjadi 14.855 ton, dibanding 2022 sebanyak 20.079 ton. Volume produksi logam timah TINS juga turun 22,6% yoy menjadi 15.340 metrik ton pada 2023 dari 19.825 metrik ton tahun 2022.
Baca Juga
Kerugian Kerusakan Lingkungan Kasus Timah Rp 271,06 Triliun, Ini Kata Ahli
Penjualan logam timah juga turun 31% yoy dari 20.805 ton pada tahun 2022 menjadi 14.385 ton pada tahun 2023. Penurunan ini memicu perseroan berbalik rugi bersih sebesar Rp 449,69 miliar pada 2023, dibandingkan tahun 2022 dengan laba bersih Rp 1,04 triliun.
Angka ini didapat dari pendapatan TINS yang merosot 32,88% yoy menjadi 8,39 triliun dibanding periode sebelumnya yaitu Rp 12,5 triliun. Tahun ini, manajemen berharap terdapat peningkatan pendapatan sehingga Perseroan dapat mencatatkan laba. (CR-4)

