Berhasil Balikkan Rugi Jadi Laba, Visi Media Asia (VIVA) Optimistis Tren Positif Berlanjut di Semester II-2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) membukukan kinerja solid pada semester I-2025 dengan keberhasilan membukukan laba bersih Rp 1,19 triliun. Hasil ini memperlihatkan arah pertumbuhan yang jelas dan memberi optimisme bagi perjalanan perseroan ke depan.
Dalam enam bulan pertama tahun ini, VIVA mampu membalikkan kerugian tahun lalu menjadi laba bersih, ditopang keberhasilan restrukturisasi keuangan yang signifikan.
Baca Juga
Net Sell Berlanjut Rp 1,38 Triliun, Investor Asing Obral Saham BBCA dan PANI
Pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 477,9 miliar dan EBITDA Rp 32,8 miliar dengan margin 6,9%. Namun manajemen menegaskan bahwa efisiensi beban bunga menjadi kunci utama perbaikan. Perubahan besar ini menjadikan fondasi keuangan VIVA lebih sehat untuk melakukan berbagai aksi korporasi.
Dari sisi struktur modal, perseroan berhasil menekan liabilitas menjadi Rp 6,1 triliun pada 30 Juni 2025, dibandingkan akhir 2024 mencapai Rp 7,28 triliun. Ekuitas juga berbalik positif menjadi Rp 418,97 miliar setelah sempat defisit Rp 772,9 miliar pada akhir tahun lalu.
Presiden Direktur Visi Media Asia (VIVA) Arief Yahya menyebutkan, perbaikan struktur modal itu menjadi tonggak penting yang menegaskan kemampuan VIVA menyehatkan neraca, sekaligus memperkuat daya tahan finansialnya.
“Restrukturisasi memberi ruang bagi kami untuk terus berinvestasi di konten, teknologi, dan pengembangan talenta. Kami berkomitmen menjaga kepemimpinan di televisi FTA dan memperluas jangkauan digital di era konvergensi media,” ujar Arief dalam paparan publik perseroan di Bakrie Tower, Jakarta, Rabu (3/9/2025).
Baca Juga
Prabowo Bahas Penguatan Kawasan hingga 'Giant Sea Wall' dengan Xi Jinping di Beijing
Manajemen VIVA Group optimistis, kombinasi restrukturisasi keuangan, penguatan konten, dan ekspansi digital akan menjadi tiga pilar pertumbuhan ke depan. Arief mengakui bahwa kompetisi di antara industri media, sedemikian ketat. Begitu pula dengan kompetisi sesama media digital.
Dia menyimpulkan, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan, seperti memperbesar pemasukan dari bisnis digital media agar menyeimbangi pendapatan televisi (free to air/FTA). Kemudian melakukan aksi korporasi organik seperti dilakukan saat ini dan non-organik yang mungkin dilakukan tahun depan.
“Dengan fundamental yang solid, kami yakin tren positif ini berlanjut di semester II-2025. Kami akan terus menghadirkan konten berkualitas, memperkuat platform digital, dan menjaga kepemimpinan di industri media nasional,” ungkapnya.
Grafik Saham VIVA dan MDIA

