Jual 32,62 Juta Ton Batubara, Adaro Energy (ADRO) Raup Laba Inti US$ 1,02 Miliar
JAKARTA, Investortrust.id – PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) membukukan laba inti senilai US$ 1,02 miliar pada semester I-2023 atau turun 29% dari periode sama tahun lalu US$ 1,44 miliar. Pendapatan perseroan juga turun tipis dari US$ 3,54 miliar menjadi US$ 3,47 miliar.
Baca Juga
Penurunan pendapatan tersebut dipicu atas pelemahan rata-rata harga jual batu bara mencapai 18% sepanjang semester I-2023. Sedangkan volume penjualan batu bara perseroan melesat 19% menjadi 32,62 juta ton dan produksi naik 33,41 juta.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Garibaldi Thohir atau Boy Thohir mengatakan, operasional Adaro mencatatkan pertumbuhan sepanjang semester I-2023, meski fluktuasi harga dan kenaikan biaya tengah melanda. “Walaupun ada tantangan-tantangan ini, kami berhasil mencatat margin yang sehat dengan menghasilkan laba inti US$ 1,02 miliar,” ujarnya dalam keterangan resmi di Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin.
Baca Juga
Harga Emas Terkerek US$ 3,0 Saat Imbal Hasil Obligasi AS Melemah
Melihat performa tersebut, dia mengatakan, Adaro opitmistis mencapai target kinerja operasional dan keuangan tahun 2023. Target tersebut akan dicapai dengan dukungan eksekusi yang solid di masing-masing bisnis.
“Kami juga siap untuk ambil bagian dalam inisiatif hilirisasi Indonesia melalui smelter aluminium setelah mendapatkan pemenuhan keuangan Mei lalu. Hal ini menekankan komitmen kami terhadap pertumbuhan yang berkelanjutan di jangka panjang melalui strategi tiga pilar,” terangnya.
Adaro (ADRO) juga mencatatkan EBITDA operasional senilai US$ 1,39 miliar hingga Juni 2023, dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 2,33 miliar. Penurunan tersebut dipicu atas normalnya kembali harga jual batu bara global.
Baca Juga
IHSG Kokoh di Atas Level 6.900, Tiga Saham Komoditas Siap Kasi Cuan
Sebaliknya total aset perseroan melesat 11% dari US$ 8,78 miliar menjadi US$ 9,73 miliar. Peningaktan didukung kenaikan saldo kas sebanyak 23% menjadi US$ 2,76 miliar. Kas dan setara kas berkontribusi sekitar 28% terhadap total aset.
Terkait rencana investasi, Garibaldi Thonir mengatakan, perseroan mencatatkan peningkatan belanja modal sebanyak 71% menjadi US$ 269 juta. Sebagian dari dana tersebut telah digunakan untuk belanja alat berat, tongkang, dan infrastruktur pendukung pada rantai pasokan, dan memulai investasi smelter aluminium dan fasilitas pendukung lainnya.

