Tanpa Mitigasi Risiko MSCI, Modal Asing Keluar dari Indonesia Bisa Tembus US$ 6 Miliar
JAKARTA, investortrust.id – Potensi arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia membayangi pasar saham, seiring meningkatnya ketidakpastian terkait evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Tanpa mitigasi yang memadai, dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia diperkirakan mencapai US$ 6 miliar.
Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan, potensi arus keluar modal asing berkisar US$ 2 miliar hingga US$ 6 miliar. Angka tersebut berasal dari gabungan investor aktif (active fund) dan investor pasif (passive fund). "Kami melihat memang potensi keluar dari pasar saham ini berkisar antara US$2 sampai 6 miliar yang terdiri dari active fund dan juga passive fund," ujar Irman dalam taklimat media di Sabang, Aceh, Jumat (6/11/2026).
Menurut Irman, ketidakpastian menjelang keputusan final MSCI membuat investor asing belum yakin untuk menempatkan dananya di pasar modal Indonesia. Kondisi tersebut terjadi meskipun fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong mumpuni.
Baca Juga
Hadapi Rebalancing MSCI, BEI Genjot 3 Aspek Pembenahan Pasar Modal
Irman menjelaskan, investor aktif merupakan pemilik modal yang tidak terikat pada keputusan MSCI dan menentukan investasi berdasarkan perhitungan masing-masing. Sementara itu, investor pasif mengacu pada hasil penilaian MSCI dalam menentukan alokasi investasinya.
Dengan belum pastinya keputusan MSCI hingga kuartal II-2027, investor asing cenderung menahan diri. Namun, potensi arus keluar dari investor pasif diperkirakan baru terealisasi, apabila Indonesia benar-benar turun status. "Artinya kalau kita di-downgrade baru dia akan keluar. Sehingga sifatnya lebih lagging menuju kuartal II-2027," kata Irman.
Pengaruh Geopolitik
Meski ketidakpastian MSCI membayangi pasar modal, Irman menilai keputusan indeks tersebut bukan satu-satunya faktor yang menentukan arah arus modal asing. Kondisi geopolitik juga menjadi pertimbangan penting bagi investor.
Baca Juga
Respons Permintaan MSCI, OJK Berikan Sanksi Tegas Pelaku Pelanggaran di Awal November 2026
Menurut dia, investor aktif cenderung masuk ke pasar keuangan Indonesia ketika kondisi geopolitik membaik. Sebaliknya, memburuknya situasi geopolitik dapat mendorong mereka menarik dana dari Indonesia. "Kalau geopolitiknya memburuk itu dia cenderung keluar. Itu yang lebih besar mempengaruhi dibandingkan dengan MSCI uncertainty ini untuk active investor," jelasnya.
Irman menambahkan, sebelum keputusan final MSCI diumumkan, ketidakpastian tersebut berpotensi lebih besar memengaruhi investor pasif.
Merembet ke Pasar Obligasi
Irman mengingatkan, risiko terbesar bukan hanya potensi keluarnya dana asing dari pasar saham, tetapi juga apabila tekanan tersebut merembet ke pasar obligasi. Pasalnya, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi secara tajam dapat meningkatkan beban pembayaran bunga pemerintah.
Menurut Irman, karakteristik arus modal asing di pasar obligasi berbeda dengan pasar saham. Investor obligasi yang menarik dananya biasanya langsung membeli dolar Amerika Serikat (AS) untuk merepatriasi dana ke negara asal.
Baca Juga
Gubernur BI: Penilaian MSCI Hambat Minat Investor Asing ke Indonesia
Sementara itu, investor saham masih memiliki opsi melakukan rotasi aset sebelum benar-benar keluar dari pasar Indonesia. "Karena kalau di bonds market itu portfolio flows yang masuk biasanya langsung beli dolar, repatriate dananya. Namun kalau pasar saham dia bisa lakukan asset rotation dulu sebelum dia keluar," ungkapnya.
Sebelumnya, Irman juga menyoroti pergerakan credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun yang masih menjadi perhatian dalam pengelolaan pembiayaan pemerintah. Berdasarkan data Investing per Rabu (4/11/2026), CDS Indonesia tenor lima tahun berada di level 102,74, turun 1,2% dibandingkan posisi sebelumnya.
Irman menjelaskan, kenaikan CDS Indonesia dipengaruhi faktor geopolitik yang dinilai memiliki dampak lebih besar dibandingkan ketidakpastian akibat pengumuman MSCI. "MSCI faktor, dia meningkat itu memang ini mendorong CDS tapi ada faktor lain yang juga menjadi dasar dari CDS tersebut yaitu geopolitik," kata Irman dalam taklimat media, Kamis (5/11/2026).
