69 Penerbit Masuk Indeks Obligasi ESG Besutan PHEI dan BEI
JAKARTA, investortrust.id – PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi meluncurkan Indonesia ESG Bond Index, indeks obligasi dan sukuk berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Sebanyak 69 penerbit masuk dalam konstituen indeks tersebut dengan peringkat obligasi mulai dari AAA hingga BBB-.
Direktur Utama PHEI M. Kadhafi Mukrom mengatakan, dari total 69 konstituen penerbit, sebanyak 37 masuk dalam seri reguler dan 32 lainnya tergabung dalam seri premium. “Ada 37 untuk seri yang biasa, kalau yang premium ada 32. Obligasinya masuk kategori Triple AAA dan Triple BBB Minus, yang masuk kategori itu yang kami masukkan di indeks ini,” kata Kadhafi kepada awak media di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Menurut Kadhafi, peluncuran Indonesia ESG Bond Index diharapkan dapat menjadi acuan (benchmark) bagi investor untuk mengevaluasi kinerja portofolio obligasi dan sukuk berbasis ESG. Kehadiran indeks ini juga menjadi bagian dari pengembangan acuan investasi di pasar surat utang, sekaligus membuka peluang pembentukan produk investasi berbasis indeks pada masa mendatang.
Baca Juga
Izin Obligasi Daerah Pemprov DKI Jakarta Belum Turun, Menkeu Suahasil: Perlu Lihat Kondisi Global
Di sisi lain, Kadhafi menilai prospek penerbitan surat utang korporasi, baik obligasi maupun sukuk, masih terbuka dan berpotensi terus bertumbuh hingga 2027.
Optimisme tersebut didukung peningkatan likuiditas pasar yang tercermin dari frekuensi transaksi obligasi yang terus mengalami pertumbuhan. Kondisi ini menjadi salah satu indikator positif bagi prospek pasar surat utang ke depan.
“Kami melihat prospek ke depan akan terus meningkat. Kalau kita lihat dari sisi likuiditas, frekuensi transaksi di pasar obligasi terus mengalami pertumbuhan. Ini salah satu indikator ke depan bahwa pasar obligasi kita akan terus memiliki prospek yang baik,” terang Kadhafi.
Dia menambahkan, kebutuhan pendanaan korporasi menjadi salah satu faktor penopang pertumbuhan pasar obligasi dan sukuk. Emiten yang tercatat di BEI diperkirakan masih akan memanfaatkan penerbitan surat utang sebagai alternatif pendanaan selain pinjaman perbankan. Meski demikian, pasar surat utang masih menghadapi tantangan berupa kenaikan imbal hasil (yield) dan suku bunga acuan.
Baca Juga
Penerbitan Obligasi Korporasi Turun, Sektor Pulp dan Kertas Jadi Motor Utama
Sementara itu, Direktur PHEI Djoko Saptono mengatakan, peningkatan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) turut mendorong kenaikan biaya pendanaan (cost of fund). Namun, dia menilai peluang pertumbuhan pasar obligasi masih terbuka karena kebutuhan pendanaan perusahaan tetap tinggi, termasuk untuk keperluan pembiayaan kembali (refinancing).
“Tapi kami melihat indikator, masih ada pertumbuhan, masih ada peluang. Karena, perusahaan-perusahaan pun masih membutuhkan pendanaan untuk refinancing dan sebagainya,” ujar Djoko.
Adapun Indonesia ESG Bond Index terdiri atas dua jenis indeks, yaitu ID ESG Bond Total Return Index dan ID ESG Bond Clean Price Index. Kedua indeks tersebut diharapkan dapat melengkapi referensi bagi investor dalam memantau dan mengevaluasi kinerja portofolio obligasi serta sukuk berbasis ESG.
